Makna Kelahiran Muhammad SAW

Seseorang yang namanya selalu dikumnadangkan oleh jutaan umat manusia, baik di belahan bumi bagian Timur maupun bagian Barat, yang selalu diulang-ulang pada pertengahan malam dan dikala siang adalah nama besar Muhammad SAW, khususnya dalam kalimat “Tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah pesuruh Allah.”

Suara tersebut telah dikumandangkan selama 15 abad lamanya, tidak pernah diam, tidak pernah bungkamdan tidak pernah berhenti. Sementara keadaan demi keadaan telah bertukar silih berganti. Tetapi seruan yang abadi itu tetap tidak berubah, seruan yang telah tertanam di dalam hati nurani zaman.

Berkumandangnya suara-suara tersebut adalah suatu bukti yang hidup, yang berbicara tentang kemenangan Muhammad Ibn Abdullah, yang lahir pada tanggal 12 Rabiul Awwal di tengah-tengah bangsa Arab, 15 abad yang lalu.

Apa Makna Kelahiran Muhammad SAW?

Untuk dapat menilai makna kelahiran seseorang bagi umat dan kemanusiaan, maka perlu diketahui gambaran yang jelas tentang keadaan umat manusia sebelum ia dilahirkan, dan perubahan-perubahan apa saja yanag telah diusahakan sepanjang hidupnya.
Di saat itu, dunia tengah dilanda demoralisasi dan dehumanisasi yang dilandasi berkembangnya ras diskrimiasi. Terutama di dunia Barat yang didominir oleh bangsa kulit putih dan manusia-manusia pilihan dewa-dewa. Anggapan itu berkembang menjadi keyakinan yang berakibat negative, bahwa manusia berkulit bewarna, terutama berkulit hitam dianggap mereka sebagai bukan manusia, melainkan binatang, bahkan lebih rendah daripada binatang. Karenanya mereka diperbudak oleh kaum bangsawan (para penguasa, raja dan kaisar).

Perbudakan dahulunya adalah suatu system universal. Pra budak di kerajaan Romawi diperlakukan dengan cara yang amat kejam. Siang hari mereka dipekerjakan di lading-ladang. Sementara ketika hari telah larut malam, mereka dirantai dan dimasukkan ke dalam kamar-kamar di bawah tanah. Mereka dijaga oleh pegawal-pengawal ynag amat kejam. Hukuman yang diberikan kepada mereka berada diantara cambuk dan salib. Mereka juga dijadikan barang permainan untuk memuaskan hati orang-orang merdeka. Untuk itu diadakan pertandingan-pertandingan yanag kejam, bahkan mereka dipaksa berkelahi melawan singa. Dan semua itu berlangsung dalam suasana pesta-pora yang amat digemari oleh orang-orang merdeka (kaum bangsawan).

Agama Nasrani tidak mampu mengubah keadaan dan sikap zalim raja-raj di dunia Barat. Sementara itu, di Persia agama Zoroaster jatuh menjadi Majusi yang batil, pusat penipu pendeta ynag berlagak gagah memperalat agama untuk bertindak kejam. Di Romawi Timur agama Nasrani diberi baju palsu dan dicampur-adukkan dengan filsafat Yunani yang dekaden, sehingga dengan demikian mencerminkan karikatur yang tidak baik dan menyimpang jauh dari ajaran-ajaran Kristus.

Keadaan bangsa Arab sangat memprihatinkan, lantaran dari kepercayaan dan keyakinan mereka kepada kahin-kahin. Akibat muncul tukang-tukang sihir dengan berbagi perilaku tahayyul dan khurafat di kalangan masyarakat Arab saat itu. Adat istiadat yanag buruk dan tidak manusiawipun meracuni mereka.

Sekedar untuk diketahui, perlu kiranya disampaikan beberapa hal berikut. Pertama, Mereka berkeyakinan, bahwa barangsiapa mencela atau mencaci maki berhala Lalla dan Uzza, maka ia akan menderita penyakit supak. Kedua, mereka melarang keras seseornag membunuh ular, karena apabila ular itu mati, nanti “ruh ular” itu akan datang membalas. Ketiga, apabila seseorang telah mati, maka ruhnya akan menjadi burung yang disebut dengan mana Hammah. Keempat, dalam perut manusia itu seekor ular dan ular itu yanag akan menggigit dalam perut sewaktu seseorang dalam keadaan lapar. Kelima, kalau orang tersesat di jalan, maka kain yang dipakainya harus dibalik agar tidak tersesat. Keenam, Meraka bias memakai cincin dari besi atau tembaga ddengan kepercayaan dan berkeyakinan akan dapat menambah kekuatan pada dirinya. Na’udzubillah.

Sehubungan pada umumnya mereka itu menyembah berhala, maka kepada berhala-berhala itulah mereka memohon pertolongan dan kepada mereka mengorbankan hewan ternak mereka. Bhakan banyak diantara mereka ynag juga mengorbankan anak laki-lakinya, sebagaimana Andul Mutholib yanag bernazar akan mengorbankan anaknya, yakni Abdullah, ayah Muhammad SAW.

Moral Bangsa Arab Sebelum Muhammad Lahir


Rasanya perlu juga diuraikan tentanag kerusakan moral bangsa Arab di Jazirah Arab waktu itu. Pertama, kegemaran minum tuak dan arak adalah salah satu adat kebiasaan bangsa Arab. Rata-rata penduduk Arab adalah peminum dan pemabuk. Kedua, minum dan berjudi adalah rangkaian yanag tak terpisahkan. Cra berjudi yang mereka lakukan pun bermacam-macam, dan sering menimbulakan kerusuhan-kerusuhan, bahkan pembunuhan. Tidak jarang juga menimbulakan peperangan antar-suku. Ketiga, pelacuran dan perzinaan dilakukan didalam kedai-kedai yang terbuka. Pelacuran tidak terlarang, asal dilakukan di ruang tertutup, di rumah-rumah yang ada tanda khusus di depannya.

Keempat, pencurian dan perampokan bagi bangsa Arab kala itu merupakan suatu perbuatan yang biasa dan menjadi kebiasaan hamper semua orang. Hanya sebagian kecila saja yang tidak suka melakukannya. Kelima, kekejaman yang mereka lakukan dapat di katakana sudah melewati batas perikemanusiaan, baik kepada sesame manusa maupun kepada binatang. Sebagaimana telah dikenal dalam riwayat, bahwa diantara mereka itu amat kejam dan buas terhadap anak-anaknya sendiri bila ternyata istrinya melahirkan seorang anak perempuan. Mereka langsung menanam hidup-hidup anak perempuan itu di dalam tanah, dan beberapa cara lain yang kejam. Keenam, pada masa itu pula, umumnya masyarakat Arab tidak memiliki kesopanan, Misalnya dalam melakukan thowaf, lelaki  dan wanita sama telanjang, mandi ditempat terbuka tanpa menutupi kemaluannya sudah menjadi suatu kebiasaan, dan lain-lain.
Demikianlah gambaran sekilas masyarakat, baik di Barat maupun di Timur, dan lebih kusus di saat menjelang Rasulullah Muhammad SAW dilahirkan.

Makna Kehadiran Muhammad bin Abdullah


Muhammmad Ibnu Abdullah melakukan revolusi secara total, atau dengan kata lain, Muhammda SAW melakukan rehumanisasi. Sementara Ulama mengatakan, sepanjnag hidupnya, Muhammad SAW menghancurkan berhala, baik yang berada di dunia hati nurani maupun  di dunia nyata masyarakat yang dihadapinya. Umat manusia dalam sejarahnya yang panjang itu belum pernah mengenal seorang laki-laki lain, selain Muhammad Ibnu Abdullah yang telah menghancurkan berhala sebanyak yang telah dihancurkannya. Hanya dalam waktu kurang dari 24 tahun, ia berhasil menumbangkan batu karang, berhala raksasa ynag semanyam yang kuat di dalam hati nurani masyarakatnya yang didukung oleh kekuasaan.

Dalam jangka waktu 23 tahun Muhammd SAW berhasil melakukan berbagai perubahan yang sulit dibayangkan oleh umumnya umat manusia yang hidup di dunia ini. Hal itu menghantarkan kepadakesadaran, bahwa selama tenaga manusia ynag fana dan terbatas ini tidak berhubungan dengan “Kekuatan Azali Abadi” yang mutlak dan kekal, maka peristiwa yang luar biasa itu tidak mungkin terjadi.

Risalah Muhammad SAW adalah revolusi pembebasan manusia secara total. Revolusi yang mencakup semua segi kehidupan umat manusia dan menghancurkan berhala-berhala, terlepas dari apapun namanya, yang terdapat ditengah kehidupan umat manusia.

Muhammad SAW telah menang pada wal revolusinya. Kewtika para penguasa (pemimpin Quraisy) datang kepada pamannya, Abu Tholib untuk bertukar pendapat, dan akhirnya meminta pendapatnya untuk menawarkan kepada keponakannya, yang ucapan-ucapannya telah menggelisahkan mereka, mengacaukan adat-istiadat mereka dan menggoncanglan dasar-dasar kepercayaan mereka tentang agama mereka. Untuk semua itu Muhammad SAW boleh meminta apa saja yang dikehendakinya. Kalu mau kekuasaan dan wanita yang cantikpun akan diberikan, dengan syarat kegiatannya yang memporak-porandakan kemapaman itu dihentiaknanya. Muhammad Ibnu Abdullah telah menang ketika mengucapkan denga lantang di telinga mereka dan telinga zaman, perkataannya yang abadi, yang timbul dari sumber-sumber keimanan:
“Demi Allah, wahai pamanku! Jika mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan ditanagn kiriku dengan maksud agar kita menghentiakn tugasku ini, niscaya aku tak akan melakukannya, atau saya hancur karena melaksanakannnya.” (al-Hadits)

Ya Allah, demikian hebatnya sampai menggoncangkan badan, Alangkah hebatnya gambaran alam semesta yang agung. Walaupun seandainya mereka mampu meletakkan matahari di tangan kanan dan bulan ditangan kiri. Dapat dibayangkan, betapa hal itu akan dapat dicapai. Gambaran semacam itu menunjukkan betapa teguhnya keimanan yang mutlak yang tumbuh dari lubuk hati yang paling dalam.
Semenjak saat itu, Muhammad Ibnu Abdullah telah menang. Ia telah menggoncangkan perasaan Orang-orang Quraisy dengan goncangan yang menjadikannya tidak dapat lagi tegak dengan kukuh. Itulah keimanan, kekuatan yang tidak dapat dikalahkan oleh siapa saja di atas bumi, bila ia telah tertanam dalam lubuk hati seornag manusia.

Muhammad Ibnu Abdullah dengan optimis melangkah lebih jauh revolusinya menentang berhala, syirik kepada Allah. Revolusi itu telah mensucikan Dzat Tuhan dengan kesucian ynag mutlak di alam konsep. Ia bersihkan, sehingga tidak lagi mempunyai serikat-serikat. Berhal syirik kepada Allah SWT yang dipandang dari satu segi adalah berhala raksasa yang mempunyai akar yang dalam pada saluran-saluran perasaan manusia.

Revolusi Muhammada SAW adalah revolusi menentang berhala kefanatikan, terutama sekali kefanatikan agama. Juga menentang kefanatiakan terhadap ras dan warna kulit. Karena itu, ia mengumumkan, bahwa manusia berasal dari Yang Satu. Ia menghancurka realism yang amat ia benci dan menetapaka, bahwa ynag menentukan kelebihan seseorang hanya satu hal, yakni “takwa” seperti diisyaratkan dalam Firman Allah SWT berikut:

“…Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertawak..” (Q.S. al-hujarat [49]: 13)
Pernyataan Muhammad SAW juga sangat tegas mengenal hati tersebut, seperti dalam sabdanya: “ Barangsiapa yang menyeru kepada ash-shabiyah (kefanatikan) tidak termasuk golonganku. Siapa yang berjuang untuk kefanatikan tidak termasuk golonganku. Siapa yang mati untuk kefanatikan tidak termasuk golonganku.” (H.R. Abu Daud)

Dalam revolusinya, Muhammad SAW mengatakan di muka umum tentang kebebasan beragama dalam bentuk yang agung. Allah berfirman:
“Tiada paksaan dalam agama. Yang bijaksana itu telah nyata bedanya dari yang sesat. Siapa yang ingkar kepada berhala dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada tali yang kokoh yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 256).

Kemenangan Muhammad SAW itu diperoleh bukan dalam pertmepuran, bukan juga dalam apeperangan, bukan karena menaklukkan kota Makkah, serta bukan kerena menundukkan kedua Imperium Kisra di Parsi dan Kaisar di Roam Timur. Tetapi dia adalah kemenangan universal yang telah masuk kedalam tubuh kehidupan, merubah jalan sejarah, menukar nasib alam yang terpateri dalam hati nurani zaman.
Kemenangan ini adalah suatu kemenangan yang tidak dapat dihilangkan oleh kelemahan seketika yang diderita umat Islam dalam suatu waktu tertentu. Nilainya tidak akan pernah berkurang, karena lahirnya filsafat dan mazhab-mazhab yang baru.

Cahayanya tak akan pernah redup oleh menangnya suatu kelompok yang lain di suatu belahan dunia. Karena akarnya terhunjam dalam pada alam semesta, tertanam dalam hati manusia, mengalir dalam saluran-saluran kehidupan umat Manusia.

Jadi, jelas bahwa Revolusi Muhammad SAW ditunjukandan menghidupkan manusia. Hal ini sejalan dengan seruan Allah SWT:
“Hai orang –orang yang beriman! Jawablah seruan Allah SWT dan Rasul Allah SWT apabila keduanya memanggil untuk apa-apa yang menghidupkanmu, dan ketauhilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan harudinya. Dan sesungguahnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.”

Apa ynag dihidupkan? Revolusi Muhammad SAW pada hakekatnya adalah menghidupkan manusia, menghidupkan daya fikirnya, daya observasinya, serta akal dan hati nuraninya. Dengan jalan itulah, maka Muhammad SAW –dengan ijin Allah—berhasil memanusiakan (kembali) manusia. Selanjutnya, manusia akan menemukan jalan lurus sepanjang hidupnya. Itulah makna terpenting dari kehadiran Muhammad Ibnu Abdullah, seorang Nabi dan Rasul akhir zaman. ***

Iklan

2 comments on “Makna Kelahiran Muhammad SAW

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s