Syahwatun Nisa’

“Tiga hal yang jangan sampai dirimu melakukannya, Antara lain, jangan engkau mendatangi wanita, meskipun engkau beralasan: “Aku ingin mengajarkannya kitabullah” (Maimun Bin Mahran)

Saudaraku,

Adalah lumrah, bila seorang musafir harus mengetahui benar karakter perjalanan yang akan dilakukannya. Salah satu karakater perjalanan itu adalah munculnya fitnah dan ujian. Bila tak disikapi dengan benar, bias jadi arahnya akan menyimpang.

Kemunculan fitnah termasuk merupakan sunnatullah dalam perjalanan ini. Maka kondisi seseorang dalam perjalanan ini sangat tergantung dengan lemah atau kuatnya iman. Bila imannya prima, hubungan dengan Allah kuat, ujian apapun takkan dapat menjerumuskan. Beda halnya ketika iman melemah. Sedikit saja ujian menerpa, dapat membuatnya terjungkal.

Allah telah menakdirkan terjadinya fluktuasi iman. Tinggi dan rendahnya keimanan, adalah fenomena yang pasti dialami setiap orang. “Iman itu bertambah dan berkurang,” demikian sabda Rasulullah.

Allah menyebutkan, manausia tercipta dari tanah yang gosong (hama-in masnun). Tanah yang gosong, logikanya memiliki anasir tanah dan api yang menjadikannya gosong. Maka manusia memiliki sifat tanah (ardh), sifat api (naar), Syahwat manusia berputar di antara keduanya. Yang terkait dengan materi tanah, akan membawanya condong pada segala hal yang bersifat keduniaan. Keinginan memiliki harta, kekayaan, kecintaan pada anak dan istri, dan sebagainya. Dalam taraf tertentu, potensi syahwat seseorang dapat mengiringnya terjerembab dalam perbuatan keji, seperti mencuri atau berzina. Adapun syahwat api (syahwat nariyah), wujudnya gejolak jiwa yang meletupakan kemarahan, rasa sombong dan membangkitkan ambisi untuk dihormati, cinta jabatan, dan semisalnya.

Saudaraku,
Fitnah yang paling dahsyat –menurut Rasulullah- dalam hal syahwat, adalah fitnah yang pertama kali menyesatkan Bani Israil, yakni wanita. Syahwat banyak dapat menjadikan orang terjerumus dalam berbagai perilaku dosa. Allah juga telah menjelaskan, “Allah menghiasi manusia dengan cinta syahwat pada wanita.” (QS. Ali Imran : 14). Rasulullah sendiri mewanti-wanti kepada umatnya tentang hal ini, “Aku tidak meninggalkan fitnah yang lebih berat kepada kaum lelaki daripada fitnah wanita.” (Muttafaq Alaih)

Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan, “Fitnah wanita lebih dahsyat ketimbang fitnah anak. Sebab wanita memiliki dua fitnah, sedangkan anak memiliki satu fitnah. Dua fitnah yang ada pada wanita: Pertama ia dapat memunculkan rusaknya hubungan antara dua orang bila dalam suatu perkara wanita menuntut suaminya melakukan hal itu. Kedua, fitnah ambisi mengumpulkan harta, dengan cara halal maupun haram. Sedang fitnah anak hanya satu, mendorong orang mengumpulkan harta” (Tafsir Qurthubi, 4/29)

Saudaraku,
Cinta kepada istri itu halal dan harus. Tapi adakalanya kecintaan dan kedekatan itu menjadi penghalang dari perbuatan ma’ruf. Indikasinya, terlalu takut bahaya menimpa keluarga, ingin terlalu dekat dengan istri, lebih mengutamakan syahwat dunia dari mala akhirat. Kondisi ini bahkan bias berlanjut pada pemutusan shilaturahmi, atau menyakitkan orang tua, enggan berinfaq.

Fitnah ini sering datang sembunyi- sembunyi, nyaris tak terasakan. “Yang pertama kali memakan buah itu adalah hawa, akibat tipu daya iblis kepadanya. Pertama kali iblis berkata kepada Hawa, karena dialah yang mudah ditipu, itulah fitnah pertama yang menimpa laki-laki dari wanita. Iblis pun lalu mengatakan, “Apa yang menghalangi kalian berdua dari pohon yang akan membawa keadabian ini.” Iblis datang kepada mereka dari pintu yanag mereka sukai, “Cinta kepada sesuatu, akan membuatmu buta dan tuli.” (Tafsir Al-Qurthubi, 1/308)

Renungkanlah,
Iblis lantaran tahu tipu daya dari sisi wanita lebih efektif mudah sampai pada seorang pria. Ketika itu, telinga dapat tertutup dari kebaikan. Mata jadi buta dari yang ma’ruf. Mungkin ada pengalaman hidup yang bisa jadi pelajaran kita. Ketika banyak da’I rela meninggalkan amal shalih, demi istrinya. Melanggar maksiat, karena terlalu banyak mendengar apa yang diinginkan istrinya. Atau, mungkin yang lebih rendah dan lebih bahaya dari itu, ada suami ynag cenderung merendahkan orang lain hanya karena mendengar apa yang dikatakan istrinya. Akhirnya, seorang suami jadi merasa nikmat membicarakan –dengan istrinya- aib saudaranya, membuang waktu, menghilangkan pahala, dan menambah dosa … inna lillah….

Saudaraku,
Seorang da’I, betapapun kuat kepribadiannya, tajam pikirannya, harus waspada dari fitnah wanita. Karenanya jauhi segala kondisi yang dapat memunculkan fitnah. Hindari segala keadaan yang menjadi prolog untuk dosa dan kesalahan, apapun alasannya. Para ulama telah mengingatkan laki-laki dari wanita, meskipun dengan alas an mengajarkannya kalamullah Al Qur’anul Karim, Ulama zuhud, seperti Maimun bin Mahran, mengatakan, “Tiga hal yang jangan sampai dirimu melakukannya, Antara lain, jangan engkau mendatangi wanita, meskipun engkau beralasan: “Aku ingin mengajarkan kitabullah” (Syair A’lam Nubala, 5/17)

Jaga jarak dengan kerabat yang bukan mahram, betapapun urf atau adat yang berlaku. Waspadai fitnah yang datang dari pihak istri, termasuk dalam kerangka kerjasama dakwah. Sebab, laki-laki memang lemah di hadapan wanita. “Dan manusia diciptakan dalam kondisi lemah.” Imam Al Qurthubi meriwayatkan bahwa Thawus berkata, “Ayat ini khusus dalam masalah wanita.” Juga diriwayatkan dari Ibnu Abas bahwa ia membaca ayat tersebut, lalu mengatakan, “Artinya tidak sabar menghadapi wanita.” (Tafsir Qurthubi, 5/149)

Saudaraku,
Kita tak memungkiri sabda Rasulullah, “Sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihat.” Namun, mendidik wanita agar jadi shalihat, sama sulitnya dengan berhati-hati dengan fitnah mereka. Wallahu a’lam bish shawab. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s