Nabi Muhammad dan Dunia Baru Islam

“Dan tidaklah kami (Allah SWT) mengutus engkau (Muhammad) melainkan menjadi rahmat untuk seluruh alam.” (QS [21] Al Anbiya:107)

Peringatan Maulid NABI Muhammad SAW tanggal 12 Rabiul Awal diselenggarakan setiap tahun, mulai dari Istana Negara dan di tempat-tempat lain di seluruh tanah air. Peringatan Maulid di dunia Islam pertama kali diadakan oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi. Shalahuddin adalah pahlawan Islam dalam Perang  Salib menghadapi serangan Kristen di Eropa Abad ke-6 H/12 M. Peringatan Maulid diadakan bukan sebagai ritual agama, melainkan untuk mengorbankan kembali semangat jihad kaum Muslimin. Selain itu juga untuk membangkitkan kesadaran umat untuk meneladani akhlak Rasulullah.

Memperingati Maulid, pada hakikatnya adalah mengenang lahirnya kenabian yang ditunggu (an-nabiyyul-muntazhar). Dalam Al-Qur’an diungkapkan, bahwa kelahirana seorang Nabi yaitu Ahmad (Muhammad) telah disampaikan oleh Nabi Isa kepada para pengikutnya. Ulama ahli tafsir Imam Al-Qurthubi menukilkan hadits dari Nabi Muhammad, “Namaku dalam Injil ialah Ahmad, sedangkan namaku dalam Al-Qur’an ialah Muhammad, sebab aku terpuji dikalangan ahli langit dan bumi.” Imam Al-Qurthubi juga menyebut riwayat Nabi Musa berdoa, “Ya Allah! Masukkanlah aku dalam golongan umat Ahmad (maksudnya Muhammad).”

Ulama besar Qadhi al-Hafizh Tyadh bin Musa dalam kitab As-Syifa menjelaskan Allah SWT telah mencoba penggunaan nama Ahmad atau Muhammad sebelum kelahiran Nabi Muhammad. Dengan demikian tidak ada seorang di dunia yang menggunakan nama tersebut sebelum lahirnya Nabi Muhammad SAW.

Penulis pertam tentang Sirah An-Naba-wiyah (sejarah) Nabi Muhammad yaitu Ibnu Hisyam menuturkan dari sumber paling klasik dan tepercaya; Ibnu Ishaq (wafat 767 M/150 H) menetapkan dengan jelas dan tepat hari kelahiran Nabi Muhammad, yakni hari Senin malam, tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah, bertepatan dengan tahun 570 M.

Mempercayai Muhammad sebagai hamba Allah dan utusan-Nya serta tidak ada Nabi dan Rasul setelah Muhammad, baik yang membawa syariat baru ataupun yang tidak membawa syariat baru, merupakan salah satu prinsip pokok akidah Islam.

Nabi dan Negarawan  

Menurut Prof. William Montgomery Watt dari Universitas Edinburgh Inggris dalam buku Muhammad: Prophet and Statesman mengutarakan, masyarakat yang dibangun Muhammad yang sebelumnya pada masa pra-Islam didasarkan pada ikatan kesukuan dan pertalian darah, digantinya denga ikatan yang didasarkan keagamaan dan persaudaraan Islam (ukhuwah Islamaiyah) yang bercorak demokratis dan egalitarian.

Di samping itu tugas kenegaraan telah dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW dengan sukses. Dalam kaitan ini, ada tiga fondasi utama kebesaran Nabi Muhammad dalam sudut pandang Watt.

Pertama, Muhammad mempunyai bakat dan visi sebagai pengamat yang jeli dan bisa melihat berbagai permasalahan jauh ke depan.

Kedua, Muhammad sebagai seorang Negarawan bersifat bijaksana dalam melaksanakan segala sikap kenegarawanan.

Ketiga, Muhammad memiliki seperangkat kecakapan dan strategi sebagai serang administrator serat mempunyai pengetahuan dalam memilih para pembantunya. Ketika Muhammad wafat, negara yang telah ia bangun sudah mapan dan dapat bertahan serta bisa menanggulangi goncangan, dan kemudian Negara itu dapat berkembang dengan cepat.

Nabi Muhammad adalah satu-satunya contoh kepemimpinan yang lengkap, sangat kaya, dan mencerahkan dalam berbagai dimensi. Tidak ada tokoh dalam sejarang yang ditulis, dipelajari dan dijadikan panutan dalam setiap ucapan, tindakan, persetujuan, larangan dan perilakunya, selengkap, sedetil, dan sebanyak Nabi Muhammad. Sehingga bila kita mengkaji perjalanan hidup dan kepemimpinan Nabi di dalam tingkat-tingkat hidup yang dilalui bagaikan mengarungi samudera yang tiada bertepi.

Prof. Athiyah al-Abrasyi dalam buku ‘Uz-matur-Rasul menyimpulkan, “Dalam pribadi Nabi Muhammad SAW didapati sifat keberanian Nabi Musa, sifat kepemurahan Nabi Harun, sifat kesabaran Nabi Ayub, sifat keteguhan hati Nabi Daud, sifat kebesaran atau keagungan Nabi Sulaiman, sifat kegembiraan Nabi Yahya, dan sifat pengasihan Nabi Isa.”

Nabi Muhammad diutus untuk membawa suatu change (perubahan) dalam tatanan masyarakat dunia. Dari masyarakat jahiliyah kepada masyarakat mardhatillah, dari masyarakat yang jumud dan beku kepada masyarakat yang memberi tempat kepada perkembangan ilmu pegetahuan, dari masyarakat yang penuh perbudakan dari yang kuat terhadap yang lemah, menjadi masyarakat yang demokratis yang bermotivasikan kemajuan atas dasar keimanan serta nilai-nilai kemanusiaan dan kemasyarakatan yang luhur.

Tugas Nabi Muhammad adalah membawa risalah Islam kedalam realitas kehidupan umat manusia untuk memecahkan persoalan-persoalan hidup dan kehidupan dalam berbagai aspeknya. Kehidupan Nabi sendiri sejatinya merupakan wujud hidup (living model) dari ajaran Islam sebagaimana diinginkan oleh Allah SWT untuk diterapkan sesuai kondisi yang ada.

Nabi Muhammad merupakan pemimpin dakwah yang paling berhasil, pemimpin social-politik yang menyatukan umat dalam suatu Dunia Baru Islam. Bahkan dalam situasional, Nabi juga memegang peran sebagai pemimpin militer yang bermoral tinggi. Karakter dan akhlak Nabi sebagai super leader diungkapkan dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat suri teladan  yang baik bagi kamu, yaitu orang-orang yang mengharapkan (rahmat) Illahi dan (kenikmatan) dari Akhirat dan (senantiasa) banyak mengingat Allah.” (Q.S. al-Ahzab [33]:21)

Ummul-Mukminin, Aisyah r.a. menerangkan dalam sebuah hadits, “Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an.” Dalam surat Ali Imran [3] ayat 159 diungkapkan karakter kepemimpinan dan akhlak Nabi Muhammad SAW, di antaranya: lemah lembut, tidak bersikap kasar, pemaaf dan memohonkan ampunan, musyawarah, dan berserah diri (tawakkal kepada Allah).
Selain itu, dalam surat Al-Fath [48] ayat 29 dilukiskan sikap Nabi Muhammad dan orang-orang yang bersama dengannya, yakni: teguh dan tegas berhadapan dengan mereka yang menolak kebenaran, berkasih sayang terhadap sesame Muslim, serentak ruku’ dan sujud terhadap illahi, dan sama mengidamkan karunia dan ridha-Nya.
Nabi Muhammad adalah manusia yang paling mulia di dunia dan di akhirat. Namun Nabi tidak suka dikultuskan. Ketika seseoran bersalaman hendak mencium tangannya, lekas beliau menarik tangannya dan berkata, “Cara mencium tangan adalah sikap oaring-orang asing dalam menghormati raja-raja mereka.” Nabi melarang orang-orang berdiri dengan maksud menghormati kedatangan Beliau pada suatu majlis.
Nabi Muhammad diakui oleh para ahli sejarah sebagai satu-satunya pemimpin yang mempengaruhi kehidupan umat manusia secara menyeluruh. Nabi melakukan perubahan besar untuk memperbaiki masyarakat tidak dengan jalan kekerasan, tapi dengan dakwah yang menimbulkan simpati.

Philip K. Hitti dalam buku The History Arabs dan H.A.R. Gibs dalam Mohamadanisme menyatakan, bahwa kebangkitan umat Islam masa kepemimpinan Nabi Muhammad itu paling cepat dalam masa yang sanagt pendek. Suatu keajaiban sejarah yang belum ditemui dalam kehidupan umat manusia, baik sebelumnya maupun sesudahnya.

Dalam konteks ajaran agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, tepat sekali Ulama besar Mesir, Prof. Dr. Farid Wajdi, menyimpulakan pokok-pokok ajaran Islam sebagai berikut.

Pertama, membebaskan manusia dari penyembahan kepada selain Allah.

Kedua, seluruh syariat (peraturan-peraturan) Islam itu adalah untuk kebaikan manusia, untuk meninggikan harkat dan martabat manusia.

Ketiga, menetapkan persamaan derajat kemanusiaan yang merata, dan Islam anti diskrinimasi.

Keempat, mengajarkan musyawarah dan kekuasaan tidak boleh berada pada satu tangan. Rasulullah bermusyawarah dalam “taktik”, tapi bukan dalam melaksanakan perintah Allah.

Kelima, mengaitkan bahwa nasib manusia di Akhirat kelak tergantung pada usaha dan amal di dunia.

Keenam, mengakui peranan akal dan penalaran dalam kehidupan manusia untuk menuju pada keridaan Allah.

Umat Islam mencintai dan mentaati risalah Nabi Muhammad sebagai manifestasi dari kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWT. Perhatikan Firman Allah SWT berikut:

“Apabila kamu mencintai Allah, maka ikutlah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan akan mengampuni dosa-dosamu, dan Allah Maha Pengampun dan Pengasih.” (Q.S. Ali Imran [3]: 31)

Menurut riwayat yang paling kuat, firman Tuhan yang terakhir diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW ialah: “Hari Ini sempurnalah bagimu agamamu, lengkaplah Allah memberikan nikmat bagimu, dan Aku (Allah) ridha agama Islam menjadi agamamu.” (Q.S. al-Maidah [5]: 3)

Para perawi hadits yang mencatat wasiat penghabisan Nabi Muhammad SAW kepada umatnya, “Aku sudah tinggal bagimu dua pusaka yang kalau kamu berpegang teguh dengannya niscaya kamu tidak sesat buat selamanya, yaitu Kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnahku.” (H.R. Al-Hakim dari Abu Hurairah)***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s