Waktu Kita Sedikit (Menejemen Waktu Menurut Islam)

Imam Sofyan Tsauri mengatakan, “Sesungguhnya aku sangat menginginkan satu tahun saja dari seluruh usiaku, seperti Ibnu Mubarak. Tapi aku tidak mampu melakukannya, bahkan dalam tiga hari sekalipun.” (Nuzhatul Fudhala, 2/655)

Saudaraku,

Bersyukurlah atas petunjuk Allah yang telah menuntun kaki kita menapaki jalan hidup bersama kalifah dakwah ini. Sungguh, inilah nikamat yang teramat mahal harganya. Nikmat yang taka da bandingannya. Karena dengan nikamt itu kita bisa merasakan kesenangan menemui buah kebersamaan di atas jalan dakwah. Karena nikmat Allah itu, kita bisa merasakan persaudaraan, cinta, kasih, saying yang yang ada dalam jenk-jenak nafas para pejuang da’wah. Karena nikmat itu juga kita bisa mengecap manisnya sebuah pengorbanan, nikmatnya  kesempitan, lapangnya kesulitan, yang tak dirasakan orang lain. Begitulah janji Allah kepada hamba-hamba-Nya yang berjalan di jalan-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan akan mengokohkan kaki kalian.” (QS. Muhammad : 7).

Saudaraku,

Pengorbanan, kesulitan dan kesempitan yang ada di jalan ini, mengharuskan kita memiliki pijakan yang kuat. Taka da tempat bagi orang yang memiliki tekad lemah dan hati yang mudah goyah. Itulah harga yang herus ditebus untuk memperoleh kenikmatan akhirat. “Dagangan Allah itu mahal,” kata Rasulullah. “Dagangan Allah itu adalah surga,” lanjutnya.

Kita mempunyai waktu sangat singkat untuk memperolehnya. Kita hanya memiliki rentang masa yang pendek untuk melakukan amal shalih. Seperti catatan Dr. Muhammad Hasan bin Aqil dalam kitab ‘Ajzu Tsiqat, “Orang yang memperhatikan sejarah akan menyimpulkan bahwa kebanyakan orang-orang shalih tidak memiliki waktu untuk memperdalam ilmudan melakukan amal shalihnya, melainkan hanya dua puluh tahun. Lebih sedikit atau kurang sedikit.”

Bila dikaitkan dengan sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi, “Umur umatku antara 60 sampai 70 tahun,” berarti mungkin ada kurang lebih empat puluh tahun usia kita yang tidak digunakan dalam rangka amal shalih.

Ilustrasinya seperti ini,

Seandainya ada seseorang berusia eman puluh tahun, bisa digunakan dalm tiga keadaan:

Pertama, ada orang yang menggunakan sepertiga dari 60 tahun itu untuk tidaur. Ini terjadi pada orang yang tidur selama dua belas jam satu hari. Berarti tidur telah memakan waktu 30 tahun atau separuh dari hidup keseluruhannya. Semoga Allah tidak memasukkan kita kedalam golongan mereka. Ada juga yang tidur kurang dari delapan jam sehari, tapi ini sedikit. Bagi mereka, artinya tidur memakan sepertiga waktu dari eman puluh tahun, yakni kurang lebih 20 tahun.

Kedua, sepertiga dari eman puluh tahun lainnya, digunakan dalam bekerja untuk amal duniawi, Sama seperti dalam masalah tidur, umu8mnya orang menghabiskan waktu delapan jam dalam satu hari untuk bekerja. Berarti ia telah menggunakan sepertiga dari usianya atau 20 tahun untuk mencari nafkah. Artinya juga, usia yang enam puluh itu telh berkurang sekitar 40 tahun, jika ditambah waktu tidurnya 8 jam satu hari.

Ketiga, 20 tahun sisanya, umumnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup lain, seperti mengurus masalah keluarga, memelihara anak, berkunjung ke rumah kerabat, makan, minum, pergi ketempat wisata, kepasar dan sebagainya.

Bila demikian, masih berapa lagi waktu yang tersisa agar kita bisa bersaing dan berlomba mencapai surga?

Sebab itulah salah satu kebiasaan para salafushalih adalah mengurangi jam tidur, waktu bekerja dan waktu memenuhi kebutuhan manusiawinya. Itu dilakukan agar mereka bisa mendapatkan kesempatan lebih banyak untuk bisa berlomba mencapai kenikmatan akhirat.

Sirah Imam Nawawi menyebutkan contoh luar biasa dalam memanfaatkan waktu beramal shalih. Bagaiman beliau menyedikitkan makan, minum bekerja dan tidur agar mereka memperoleh waktu yang banyak untuk melakukan ketaatan kepada Allah SWT. Disebutkan ketika Imam Nawawi pindajh ke Damaskus ia bersungguh-sungguh memanfaatkan waktu. Ketika itu selam dua tahun penuh ia tidak meletakkan punggungnya di atas bumi, tapi ia tidur dengan bertelekan pada kumpulan kitabnya. Beliau terus menyibukkan diri menggali ilmu, beribadah baik shalat malam, puasa dan berusaha tidak menghilangkan waktu sia-sia. Ia belajar tiap hari selama dua belas jam di hadapan syaikhnya, dan berusaha menghindari tidur kecuali ia sudah tidak mampu menahannya lagi. Ia mengatakan, “ Bila aku terkalahkan oleh kantuk, aku bersandar kepada kitab-kitab sebentar, sampai aku bangun kembali.”

Pernah seorang sahabat memberi makanan enak kepadanya, tetapi ia menolak untuk memakannya dengan mengatakan, “Aku khawatir biala aku kenyang aku mudah tertidur.” Disebutkan bahwa ia tidak makan dan minum kecuali satu kali di waktu malam. Dan ia tidak minum kecuali satu kali ketika sahur.

Benar, bahwa Islamini adalah agama yang lengkap dan pekerjaan itu termasuk ibadah, tidur dengan niat yang baik juag ibadah. Ynag perlu kita garis bawahi dalam pebicaraan kali ini adalah bagaimana pendeknya waktu hidup kita. Toh, banyak orang yang meskipun telah memiliki niat yang benar dalam setiap amalnya, tapi mereka terbukti tidak bisa mengoptimalkan waktu hidup dengan baik. Adakalanya kita, meski diiringi dengan niat yang baik, taoi kita berlebihan dalam tidur, dalam bekerja, dalam makan, minum dan sebagainya.

Saudaraku, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya pada kita.

Para salafushalih biasa berlomba, bersaing, dan membandingkan kualitas dirinya dengan orang-orang shalih yang lain. Adalah salah seorang sahabat Ibnu Aun, seorang ulama Bashrah, mengatakan, “ Sesungguhnya aku tahu ada seorang yang sejak dua puluh tahun ingin melakukan apa yang dilakukan Ibnu Aun dalam sehari semalam. Tapi ia tidak mampu melakukannya. (Nuzhatul Fudhala, 1/544).

Imam Sofyan Tsauri mengatakan, “Sesungguhnya sangat menginginkan satu tahun saja dari seluruh usiaku, seperti Ibnu Mubarak. Tapi aku tidak mampu melakukannya, bahkan dalam tiga hari sekalipun.” (Nuzhatul Fudhala. 2/655).

Itulah yang dikatakn Sofyan Tsauri. Padahal Sofyan Tsauri adaah ulama yang terkenal luar biasa dalam beribadah. Sampai ada salah seorang salaf di zamannya yang mengatakan, “ Sofyan itu pada zamannya seperti Abu Bakar dan Umar di zamannya.” Yang lain mengatakan, “ Saya membayangkan kelak dihari kiamat Allah akan mendatangkan Sofyan di hadapan para hamba-Nya dan Allah berfirman kepada mereka, “Kalian tidak bertemu nabi kalian, taoi kalian telah bertemu Sofyan…”

Pertanyaannya adalah, bila Sofyan Tsauri telah mencapai prestasi ibadah yang begitu istimewa, bagaimana keadaan ibadah yang dilakukan Ibnu Mubarak? Semoga Allah merahmati keduanya.
Amin… 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s