Etika Al-Qur’an dalam Mengatasi Kemiskinan

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (Rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.”

(Q.S. al-An’am [6]: 42)

Kisah-kisah tragis akibat kemiskinan kembali menyayat kesadaran kemanusiaan kita. Kabar terbaru datang dari Pasuruan Jawa Timur, yakni tragedy pembagian zakat yang telah merenggut setidaknya 21 jiwa kaum dhuafa. Himpitan ekonomi yang amat menekan membuat mereka tidak sanggup bergerak mempertahankan hidupnya. Kini, rakyat miskin (dhuafa) makin sengsara seiring dengan terus melambungnya harga kebutuhan pokok sehari-hari yang kian sulit dijangkau.
Hidup dalam kemiskinan tentu bukan pilihan setiap orang. Tetapi karena factor-faktor ketidak adilan structural, absennya kepekaan social, dan terbatasnya akses meraih sumber ekonomi yang mengiringi orang jatuh ke jurang kemiskinan. Kemiskinan merupakan persoalan multidimensional, tidak hanya terkait masalah ekonomi semata, melainkan juga social, budaya, politik, dan pemahaman agama.

Implikasi permasalahan kemiskinanpun dapat melibatkan keseluruhan aspek kehidupan, antara lain meningkatkan kriminalitas, perampokan, patologi dan kekerasan social. Francis Fukuyama (2004) menyebutkan, kemiskinan merupakan penyumbang terbesar terjadinya guncangan social (great distruption) di berbagai Negara di dunia.

Mengurai persoalan kemiskinan membuhtukan pembahasan terpadu (interkonektif-integratif), baik dari segi ekonomi, kesehatan, pendidikan, kebudayaan, teknologi, dan ketenaga-kerjaan. Namun demikian, agama merupakan salah satu “faktor kunci” yang tidak dapat diabaikan. Pesan-pesan dalam kitab suci dan sumber-sumber keagamaan tentang kemiskinan perlu dikaji secara mendalam dan kontinyu.

Bila merujuk pada Al-Qur’an, setidaknya ada 10 kota kata tentang kemiskinan. Kosa kata yang dimaksud adalah: al-maskanat (kemiskinan), al-faqr (kekafiran), al-‘ailat (mengalami kekurangan), al-ba’sa (kesulitan hidup), al-imlaq (kekurangan harta), al-sail (peminta), al-mahrum (tidak berdaya), al-qani (kekurangan dan diam), al-mu’tar (yang perlu dibantu) dan al-dha’if (lemah). Pemakaian setiap kosa kata itu mencerminkan segi tertentu dari kemiskinan atau penyandang kemiskinan. Semua istilah itu bermuara pada makna “kemiskinan” dan “penanggulangannya”.

Dalam Al-Qur’an banyak ditemukan ayat yang enekankan kepada manusiayang lebih baik taraf hidupnya untuk membantu mereka yang miskin dan menanggulangi kesulitan yang dihadapi dan agar mereka itu tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang dapat merendahkan martabatnya. Tuntunan ini sejalan denagntujuan syariat Islam yang dimaksudkan untuk kesejahteraan manusia lahir dan batin, dunia dan akhirat.

Islam menyatakan, bahwa sejarah manusia selalu menunjukkan “kaya dan miskin” dan keduanya selalu ada dalam masyarakat. Ini bagian dari sunnatullah. Keadaan itu diciptakan Tuhan berdasarkan sebab-sebab tertentu dan kaidah-kaidah yang bersifat tetap dan berlaku bagi semua manusia, berlaku bagi yang beriman dan tidak beriman. Keberadaan semacam ini dapat dipahami berkaitan dengan kondisi natural manusia, seperti sakit, umur, cacat, dan factor-faktor kultural, seperti etos kerja rendah dan mentalis. Namun demikian, kini perubahan dari kondisi rentan ke kemiskinan pada umumnya akibat factor-faktor structural.

Penyebab Kemiskinan Menurut Al-Qur’an

Sebab-sebab terjadinya kemiskinan, baik yang tersirat maupun yang tersurat dalam Al-Qur’an, diantaranya adalah karena keterbatasan untuk berusaha, penindasan, cobaan Tuhan, dan pelanggaran terhadap hokum-hukum Allah SWT.

~Sebab-sebab terjadinya kemiskinan, baik yang tesirat maupun tersurat di dalam Al-Qur’an di antaranya adalah karena keterbatasan untuk berusaha, penindasan, cobaan Tuhan, dan karena pelanggaran terhadap hokum-hukum Allah SWT.~

Perhatikan beberapa ayat Al-Qur’an berikut:

“(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi. Orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya, karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka karena melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqoroh [2]: 273)

“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampong halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhoan-Nya, dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Q.S. Al-Hasyr [59]: 8)

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (Rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.” (Q.S. Al-An’am [6]: 42)

“…Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi tanpa alas an yang benar. Demikian itu (terjadi) karena amereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.” (Q.S. Al-Baqoroh [2]: 61)

Sebagai masalah yang sudah akrab dengan kehidupan, tentu sudah ada upaya yang dilakukan oleh beragai pihak dalam memerangi kemiskinan. Akan tetapi, hasil-hasil yang dicapai masih jauh dari harapan. Kadang-kadang angka kemiskinan di negeri ini berhasil diturunkan, namun dalam perkembangan lebih lanjut juga memperlihatkan peningkatan.

Solusi Mengatasi Kemiskinan

Penanganan kemiskinan perlu dilakukan secara berkelanjutan dan membutuhkan dukungan dari berbagai piha, terutama pemerintah dan kalangan warga masyarakat yang mampu.

Al-Qur’an memberikan beberapa tuntunan dalam menanggulangi masalah kemiskinan. Diantaranya; ada yang bersifat wajib da nada juga yang sebatas anjuran.

Tuntunan yang bersifat wajib, meliputi zakat (Lihat Q.S. at-Taubah [9]: 103), infak wajib yang sifatnya incidental (Lihat Q.S. al-Baqoroh [2]: 177), menolong orang miskin sebagai ganti kewajiban keagamaan, misalnya membayar fidyah (Lihat Q.S. al-Baqoroh [2]: 184), dan menolong orang miskin sebagai sanksi terhadap pelanggaran hokum agama, misalnya membayar kafarat dengan memberi makan orang miskin (Lihat Q.S. al-Maidah [5]: 95).

Selain upaya yang bersifat wajib tersebut Al-Qur’an juga memberikan tuntunan anjuran untuk berderma secara suka-rela, yaitu melalui sedekah, infak, ihsan, dank urban. Sumber bantuan itu terutama dari orang yang mampu, dan diberi kepalangan rizki. Namun demikian mereka yang kurang mampu tetap dilibatkan. Paling tidak kewajiban membantu begi mereka yang tidak mampu memberi suatu motivasi untuk membebaskan diri dan orang lain dari kemiskinan.

Terkait dengan ajaran zakat dan infak ini, menarik untuk dikemukakan temuan Pusat Bahasa dan Budaya Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (2005). Bahwa dana (zakat, infak, dan sedekah) umat Islam saja dalam satu tahun dapat mencapai 19,3 triliun rupiah. Dana sebesar ini bila dikelola dan diberdayakan dengan baik tentu akan mengurangi angka kemiskinan di Indonesia. Agama-agama lain juga mempunyai potensi filantropi (kedermaan) yang sama.

~Al-Qur’an telah memberikan resep untuk mengatasi kemiskinan secara komprehensif. Persoalannya adalah bagaimana kita membumikan pesan-pesan luhur Al-Qur’an itu secara konsisten, sehingga dapat memberi rahmat bagi kemanusiaan, dan bagi seluruh isi jagad raya ini.~

Selanjutnya bila menilik sejarah di zaman Rsul dan para Sahabat dipraktikkan, bahwa orang miskin mempunyai hak untuk memperoleh bantuan dari sumber-sumber resmi pendapatan negara. Ini memberi petunjuk, bahwa peanggulangan masalah kemiskinan adalah merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah secara berkelanjutan dengan menempuh berbagai cara.

Di sinilah perlunya gerakan untuk meningkatkan pemberdayaan filantropi (kedermaan) Islam. Lembaga filantropi, seperti: BASIZ, LAZIZ, BAZNAS dan sejenisnya harus didukung dan dioptimalkan pengelolaannya. Keberadaan lembaga tersebut sangat berperan besar mengikis kemiskinan, asalkan dana yang berhasil dihimpun dikelola dengan cara kerja yang lebih professional.

Peran lembaga filantropi dalam mengurangi kemiskinan bukan sekadar layanan social-karitatif dan peningkatan kapasitas (pendidikan dan keterampilan) mereka. Lebih jauh, pemberdayaan adalah sebuah keniscayaan untuk dilakukan dalam rangka meningkatkan otoritas mereka untuk meraih sumber-sumber penghidupan yang layak, sekaligus mengangkat daya tawar social politik kaum miskin.

Khotimah

Dengan demikian menjadi jelas, bahwa kitab suci Al-Qur’an sebagai rujukan setiap langkah hidup kaum Muslimin telah memberikan resep untuk mengatasi kemiskinan secara komprehensif. Persoalannya adalah bagaimana kita membumikan pesan-pesan luhur Al-Qur’an itu secara konsisten, sehingga dapat memberikan rahmat bagi kemanusiaan, sekaligus rahmat bagi seluruh isi jagat raya ini (rohmatan lil’alamin).

Jika hal itu bisa diwujudkan, maka kasus seperti tragedi pembagian zakat di Pasuruan Jawa Timur yang telah merenggut nyawa kaum dhuafa tidak akan terjadi lagi. Dan lebih dari semua itu, kaum dhuafa –pelan, tapi pasti—insya Allah akan semakin berkurang. Semoga. Amin…***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s