Ajalnya Orang Fasik yang Menggugah Batin

“Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Jabir bahwa Suraqah bin Malik bin Ju’syum berkata, ‘Wahai utusan Allah, terangkan kepada kami agama kami sebagaimana kami diciptakan sekarang. Dalam hal apakah suatu perbuatan itu? Apakah dalam—catatan—pena-pena yang sudah kering dan berjalan di dalamnya ketentuan-ketentuan (takdir)? Atau tergantung masa yang akan datang (perbuatan)?’ Rasulullah menjawab, ‘Dalam—catatan—pena-pena yang sudah kering dan berjalan di dalamnya ketentuan-ketentuan (takdir).’ Ia bertanya lagi, ‘Maka untuk apa beramal?’ Nabi menjawab, ‘Beramallah, semua orang dimudahkan sesuai dengan takdirnya, dan setiap orang yang beramal—akan dinilai—tergantung dari amalnya.”

Pada zaman Nabi Musa as, dikisahkan ada seorang laki-laki yang telah meninggal dunia. Masyarakat di sekitarnya tidak mau mengurus karena kefasikan (tidak peduli terhadap perintah Tuhan) laki-laki itu. Justru, mereka membuangnya ke tempat kotoran hewan.

Kemudian, Allah memberi wahyu kepada Nabi Musa. Allah SWT berfirman, “Wahai Musa, telah meninggal seorang laki-laki dan ia dibuang dalam tempat pembuangan kotoran hewan. Sedangkan ia adalah kekasih dari beberapa kekasih-Ku. Mereka tidak mau memandikan, mengafani, dan menguburkannya. Maka, pergilah kamu. Lalu, mandikan, kafani, dan makamkan ia.”

Kemudian, Nabi Musa berangkat menuju tempat tersebut. Nabi Musa bertanya pada salah seorang yang ditemuinya, “Beri tahu aku di mana tempat mayatnya.”

Mereka kemudian berangkat menuju tempat tersebut. Ketiak Nabi Musa melihatnya dibuang di tempat kotoran hewan dan orang-orang menceritakan sepak terjangnya yang buruk, Nabi Musa berbisik kepada Allah. Ia berkata, “Wahai Tuhanku, Engkau memerintahkan aku untuk memakamkan dan menshalatinya, sedangkan kaumnya menjadi saksi atas kejelekannya.”

Allah kemudian memberikan wahyu kepada Nabi Musa, “Wahai Musa, benar tentang apa yang mereka ceritakan mengenai perilakunya yang jelek. Namun, ketika meninggal, ia memohon pertolongan dengan tiga hal. Jika semua orang berdosa dari makhluk memohon dengannya, pasti Aku memberinya. Kenapa Aku tidak menyayanginya, sedangkan ia telah meminta dengan dirinya sendiri. Dan Aku adalah Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

Nabi Musa berkata, “Wahai Tuhanku, apa tiga itu?”

Allah SWT berfirman, “Menjelang ajalnya, ia berkata. Pertama, ‘Wahai Tuhanku, Engkau lebih tahu dariku bahwa aku melakukan banyak kemaksiatan. Padahal, aku benci kemaksiatan dalam hati. Namu, dalam jiwaku berkumpul tiga hal sehingga aku melakukan kemaksiatan, sekalipun aku membencinya dalam hatiku, yaitu hawa nafsu, teman yang jelek, dan iblis—semoga Allah melaknatinya. Inilah yang menjatuhkanku ke dalam kemaksiatan. Sesungguhnya Engkau lebih tahu dariku apa yang aku ucapkan. Maka, ampunilah aku!’ Kedua ia berkata, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau lebih tahu bahwa aku melakukan kemaksiatan dan tempatnya bersama orang-orang fasik. Namun, aku mencintai berteman dengan orang-orang shaleh dan kezuhudan (meninggalkan keduniawian) mereka. Tinggal bersam mereka lebih aku cinta daripada bersama orang-orang fasik.’ Ketiga ia berkata, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya lebih tahu dariku, sesungguhnya orang-orang shaleh lebih aku cintai daripada orang-orang fasik sehingga jika datang kepadaku dua orang (satu yang baik dan yang satu yang jelek) pasti aku dahulukan kebutuhan orang yang baik di atas orang yang jelek.”

Dalam suatu riwayat, laki-laki itu berkata, “Wahai Tuhanku, jika Engkau mengampuni dosa-dosaku, bahagialah kekasih-kekasih-Mu dan nabi-nabi-Mu, sedangkan setan musuhku dan musuh-Mu akan susah. Lalu, jika Engkau menyisaku sebab dosa-dosaku, setan dan pembantu-pembantunya akan gembira, sedang para nabi dan para kekasih-Mu akan susah, Sesungguhnya, aku tahu bahwa kebahagiaan para kekasih-kekasih-Mu lebih dicintai daripada kebahagiaan setan dan pembantu-pembantunya. Maka ampunilah aku wahai Allah. Sesungguhnya, Engkau tahu apa yang aku ucapkan. Maka, sayangilah aku dan ampunilah dosa-dosaku.”

Allah SWT berfirman, “Maka aku sayangi dia dan Aku ampuni dosanya. Sesungguhnya Aku Maha Pengasih dan Penyayang, khusus bagi oaring-orang yang mengakui dosanya di hadapan-Ku. Dan hamba ini telah mengakui dosanya maka Aku ampuni. Wahai Musa, lakukan apa yang Aku perintahkan kepadamu. Aku akn memberi ampunan atas kemuliaan bagi orang yang menshalati jenazahnya dan menghadiri pemakamannya.”

Subhanallah….. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s