Bahaya Hasad

“Bacalah (hai Muhammad) berita tentang dua putera Adam dengan sebenarnya, ketika keduanya berqurban, di mana qurban salah seorang diterima, sedang qurban yang lain tidak diterima. Yang qurbannya tak diterima berkata kepada yang qurbannya diterima: “Aku akan membunuhmu!”. Jawab yang diancam: “Allah hanya menerima qurban orang-orang yang bertaqwa…”

(Q.S. al-Maidah [5]: 27)

Hasad atau dengki merupakan penyakit hati yang usianya telah cukup lama. Ketika manusia pertama Adam as diciptakan oleh Allah SWT, iblis telah merasa dengki terhadapnya. Iblis diperintahkan sujud kepada manusia itu, sedang Iblis menolaknya. Ia merasa lebih unggul dibanding Adam (manusia) berdasarkan asal-usul, bahwa dirinya diciptakan dari api, sedang Adam dari tanah. Lagi pula, ia merasa lebih senior, karena sudah lama hidup, sedang Adam yunior karena baru diciptakan. Yang diinginkan iblis adalah agar Adam yang sujud kepada dirinya, dan bukan sebaliknya.

Ketika Adam as masih sendirian, sikap saling dengki belum lahir. Tetapi begitu putra-putranya lahir dan dewasa, sikap dengki mulai terjadi. Qabil, salah seorang putra Adam as merasa dengki terhadap Habil –saudara kandungnya sendiri. Perasaan dengki itu bukan sekedar dipendam di dalam hati saja, tetapi dimanifestasikan dalam bentuk pembunuhan. Qabil melampiaskan perasaan dengkinya terhadap Habil dengan membunuh saudara kandungnya itu. Qabil yang pendengki –yang hidup pada zaman Adam—telah lama meninggal. Tetapi Qabil-Qabil lain tentu selalu ada, termasuk Indonesia, walaupun cara manifestasikan kedengkiannya bisa berbeda-beda dari zaman ke zaman.

Ketika Rasulullah SAW masih berada di tengah-tengah sahabat beliau, hidup para sahabat penuh dengan itsar, yaitu sikap lebih mementingkan kebutuhan dan kepentingan sahabat dan saudara seiman daripada diri dan keluarga sendiri. Sikap yang sangat mulia dan suci serta luhur ini merupakan hasil tarbiyah (binaan) Rasulullah SAW sebagai guru dan pendidik ulung. Penyebab utamanya ialah karena iman mereka memang benar, teguh dan mantap, sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Iman yang sahih itulah yang menyebabkan mereka hidup saling mencintai dan tak pernah saling mendengki dalam bentuk apa pun. Tetapi ketika iman mulai luntur dan penyakit ananiyah (egoism) mulai lahir, penyakit hasad atau dengki pun dengan sendirinya lahir.

Para sahabat Nabi dahulu merasa gembira kalau seorang sahabat memperoleh nikmat dari Allah. Sebaliknya mereka merasa bersedih kalau salah seorang di antara mereka ditimpa musibah. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya banyak orang Islam merasa gembira kalau saudaranya tertimpa kesusahan dan merasa kecewa dan tak gembira, kalau saudaranya itu memperoleh nikmat dari Allah SWT. Sikap tidak rela melihat orang lain berbahagia, dan merasa gembira atau bersuka-cita melihat orang lain tertimpa kesusahan inilah yang dinamakan hasad atau dengki. Al-Qur’an mengungkapkan, bahwa salah satu perangai buruk Yahudi ialah merasa dengki terhadap umat Islam.

“Kalau kalian (hai orang beriman) memperoleh kebaikan, mereka susah, tetapi kalau kalian ditimpa kesusahan, mereka bergembira karenanya…” (Q.S. Ali Imran [3]: 120).

Dengki juga merupakan sikap kalangan ahli Kitab (Lihat Q.S. Al-Baqoroh [2] ayat 109). Dan penyakit hati ini jelas merupakan penyakit berbahaya, sebagaimana dapat kita baca secara kontekstual di dalam Al-Qur’an surat Yusuf [12] ayat 8-9.

Perasaan dengki di dalam hati saudara-saudara Yusuf, putra kandung Nabi Ya’qub terhadap Yusuf ternyata telah menyebabkan mereka menzalimi Yusuf. Yusuf anak manis yang baik hati da sama sekali tak bersalah, dijebloskan ke dalam sumur yang berair, sehingga putra Nabi Ya’qub yang berhati emas ini meringkuk di dalamnya dan tak dapat keluar, tanpa bantuan pihak lain.

Sebelumnya, saudara-saudara Yusuf tersebut mengadakan rapat gelap dengan tujuan akan menghabisi saudara mereka sendiri; Yusuf, tetapi tak jadi. Sebab hasil rapat akhirnya memutuskan Yusuf sebaiknya tak dibunuh, tetapi cukup dibuang saja ke dalam sumur.

~Para sahabat Nabi dahulu merasa gembira kalau ada seorang sahabat memperoleh nikmat dari Allah. Sebaliknya mereka merasa bersedih kalau salah seorang di antara mereka ditimpa musibah. Suasana seperti itu, kini langka dijumpai di tengah masyarakat, karena penyakit hasad.~

Saudara-saudara Yusuf memang telah lama meninggal. Tetapi orang-orang yang perangainya seperti mereka akan selalu ada, yaitu yang merasa dengki terhadap saudara kandung sendiri. Ironisnya, yang dibenci dan dihasad justru orang yang baik-baik. Bukan hanya Nabi Yusuf, Nabi Muhammad SAW pun menjadi sasaran pendengkian. Perhatikan Firman Allah berikut:

“Mereka dengki kepada manusia (Muhammad), karena karunia (berupa kenabian, Al-Qur’an, dan kemenangan) yang Allah telah berikan kepada manusia itu…” (Q.S. an-Nisa’ [4]: 54)

Bukan hanya Nabi Muhammad SAW saja yang menjadi sasaran perasaan dengki, tetapi orang-orang yang beriman juga. Al-Qur’an memberitahukan sebagai berikut:

“Banyak ahli kitab yang menginginkan kalian (hai orang-orang yang beriman!) kembali kafir setelah beriman karena mereka dengki…” (Q.S. Al-Baqoroh [2]: 109)

Dalam konteks kekinian, di kantor, di lingkungan pekerjaan dan di mana-mana, perasaan dengki selalu terjadi. Karyawan yang merasa pendidikannya lebih tinggi dan masa kerjanya lebih lama bisa saja merasa dengki terhadap karyawan yang pendidikannya tak lebih tinggi dengan masa kerja tak lebih lam, tetapi tetapi memperoleh prestasi yang lebih signifikan atau lebih dekat dengan pimpinan atau atasan. Kalau saja iman mereka eksis, di mana mereka merasa bersaudara, perasaan saling dengki tentu tak sampai timbul. Di sini terasa sekali urgensi iman.

Karena iman tak ada, maka di sebuah kantor, bisa saja seorang karyawan yang dengki terhadap karyawan lainnya menempuh cara yang keji, misalnya meminta bantuan pemilik ilmu hitam untuk membunuh atau mencelakai karyawan yang dibencinya itu. Cara ini ditempuh, karena membunuh atau mencelakai secara berhadapan, ia takut resiko. Kita pun pada saat ini tak mustahil sedang diincar oleh orang yang dengki terhadap kita, dan siap akan membunuh atau paling tidak akan menyingkirkan atau mencelakakan kita.

Di dalam Al-Qur’an surat al-Falaq [113], Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW dan seluruh umat Islam agar senantiasa berlindung ari segala jenis kejahatan, termasuk dengki.

Nabi Muhammad SAW juga bersabda:

“Janganlah kalian saling mendengki, saling menfitnah (untuk suatu persaingan yang tidak sehat), saling membenci, saling memusuhi dan jangan pula saling menelikung transaksi orang lain. Jadilah kalian menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara Muslimnya yang lain, ia tidak (boleh) menzaliminya, tidak mempermalukannya, tidak mendustakannya dan tidak pula melecehkannya. Takwa tempatnya adalah di sini –seraya Rasulullah menunjuk ke dadanya tiga kali. Telah pantas seseorang disebut melakukan kejahatan, karena ia melecehkan saudara Muslimnya. Setiap Muslim atas sesame Muslim yang lain adalah haram darahnya, hartanya dan kehormatannya.” (H.R. Muslim dari Abu Hurairah ra).

Mudah-mudahan Allah SWT memberikan kita kemampuan untuk melenyapkan penyakit hasad di dalam hati kita, dan membersihkan hati kita dari segala macam bentuk penyakit hati serta motivasi yang tidak diridoi Allah.

Masih tentang hasad, Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak sempurna iman seseorang, sebelum dia mengasihi saudaranya sebagaimana ia mengasihi dirinya sendiri.” (H.R. Bukhari)

Menurut hadits ini, sesama Muslim sebenarnya bukan saling membenci dan mendengki, tetapi saling mengasihi. Ini berkaitan langsung dengan suasana hati. Sebab Nabi memberitahukan, bahwa hati manusia baik, akan baiklah akhlaknya, tetapi kalau hatinya kotor, misalnya berpenyakit hasad, akan buruklah akhlaknya. Maka upaya membaikkan dan membersihkan hati menjadi sangat perlu. Sebab dapat menentukan nasib di Akhirat nanti.

Ketahuilah bahwa penyakit hati jauh lebih berbahaya disbanding penyakit jasad. Maka penyakit hati sangat perlu disembuhkan, termasuk penyakit hasad. Obatnya tentu bukan jamu atau kapsul, tetapi Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman:

“Dan Kami turunkan di dalam Al-Qur’an syifa’ (obat/penawar) dan rahmat bagi orang-orang mukmin…” (Q.S. al-Isra’ [17]: 82)

~Mudah-mudahan Allah SWT memberi kita kemampuan untuk melenyapkan penyakit hasad di dalam hati kita, dan membersihkan hati kita dari segala macam bentuk penyakit hati serta motivasi yang tidak diridoi oleh Allah.~

Caranya tentu dengan memahami secara benar isi dan substansi ayat-ayat Al-Qur’an dan men-tadabbur-kan (merenungkan) secara mendalam, lalu mengamalkannya. Di samping itu, berdoa juga sangat perlu, semoga Allah membantu melenyapkan penyakit hati yang berbahaya itu.

Dengki hanya menyebabkan hati tak tenang, jiwa resah, serta batin gelisah. Mudah-mudahan Allah SWT menjauhkan kita dan keluarga kita dari penyakit hasad, dan semoga pula kita diselamatkan dari kejahatan dengki orang yang dengki terhadap kita. Kepada orang yang terlanjur melakukan kejahatan terhadap orang yang dibenci dan didengkinya, semoga Allah menyadarkannya sehingga ia bertaubat dari dosanya itu.

Perhatikan Firman Allah SWT berikut:

“…Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang suka membersihkan diri.” (Q.S. al-Baqoroh [2]: 222)

Terkadang perasaan dengki bisa tercetus di dalam diri kita, ketika kita melihat orang lain lebih beruntung dari kita. Perasaan dengki ini tak boleh dibiarkan apalagi dikembangkan, tetati segera diterapi. Allah SWT melalui lisan Rasulullah dalam hal ini telah mengajarkan:

“Bila seseorang melihat orang lain yang dilebihkan dalam hal harta dan kejadian, maka hendaklah ia melihat orang yang di bawahnya.” (H.R. Muslim)

Dalam riwayat lain, Nabi SAW bersabda:

“Lihatlah oleh kalian orang di bawah kalian, dan jangan lihat orang di atas kalian, karena dapat mendorong kalian mengingkari nikmat Allah terhadap kalian.” (H.R. Muslim)

Maka kita jangan melihat orang-orang lebih dari kita, tetapi harus melihat orang-orang yang dibawah kita agar dari dalam hati kita tidak timbul perasaan dengki, tetapi justru timbul perasaan bersyukur kepada Allah SWT.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s