Misteri Keberadaan Langit Sab 7

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad SAW) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Isra’ : 1).
Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada syurga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. (Q.S. An-Najm:13-18).
Ayat-ayat itu mengisahkan tentang peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha di Palestina. Mi’raj adalah perjalanan dari masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha. Sidratul muntaha secara harfiah berarti ‘tumbuhan sidrah yang tak terlampaui’, suatu perlambang batas yang tak ada manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur’an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana sidratul muntaha itu.
Di dalam kisah yang agak lebih rinci di dalam hadits disebutkan bahwa Sidratul Muntaha dilihat oleh Nabi setelah mencapai langit ke tujuh. Dari kisah itu orang mungkin bertanya- tanya di manakah langit ke tujuh itu. Mungkin sekali ada yang mengira langit di atas itu berlapis-lapis sapai tujuh dan Sidratul Muntaha ada di lapisan teratas. Benarkah itu? Tulisan ini mencoba membahasnya berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini.

Sekilas Kisah Isra’ Mi’raj

Di dalam beberapa hadits sahih disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW melakukan isra’ dan mi’raj dengan menggunakan “buraq”. Di dalam hadits hanya disebutkan bahwa buraq adalah ‘binatang’ berwarna putih yang langkahnya sejauh pandangan mata. Ini menunjukkan bahwa “kendaraan” yang membawa Nabi SAW dan Malaikat Jibril mempunyai kecepatan tinggi.

Apakah buraq sesungguhnya? Tidak ada penjelasan yang lebih rinci. Cerita israiliyat yang menyatakan bahwa buraq itu seperti kuda bersayap berwajah wanita sama sekali tidak ada dasarnya. Sayangnya, gambaran ini sampai sekarang masih diikuti oleh sebagian masyarakat, teruatam di desa-desa.
Dengan buraq itu Nabi melakukan isra’ dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina. Setelah melakukan salat dua rakaat dan meminum susu yang ditawarkan Malaikat Jibril Nabi melanjutkan perjalanan mi’raj ke Sidratul Muntaha.
Nabi SAW dalam perjalanan mi’raj mula-mula memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya baitul Ma’mur, tempat 70.000 malaikat salat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.
Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam (‘pena’). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia: sungai Efrat di Iraq dan sungai Nil di Mesir.
Jibril juga mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur’an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya. Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah salat wajib.
Mulanya diwajibkan salat lima puluh kali sehari-semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi SAW meminta keringan dan diberinya pengurangan sepuluh-sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan lagi, “Saya telah meminta keringan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah.” Maka Allah berfirman, “Itulah fardlu-Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba-Ku.”

Di manakah Tujuh Langit?

Konsep tujuh lapis langit sering disalahartikan. Tidak jarang orang membayangkan langit berlapis-lapis dan berjumlah tujuh. Kisah isra’ mi’raj dan sebutan “sab’ah samawat” (tujuh langit) di dalam Al-Qur’an sering dijadikan alasan untuk mendukung pendapat adanya tujuh lapis langit itu.
Ada tiga hal yang perlu dikaji dalam masalah ini. Dari segi sejarah, segi makna “tujuh langit”, dan hakikat langit dalam kisah Isra’ mi’raj.
Sejarah Tujuh Langit
Dari segi sejarah, orang-orang dahulu –jauh sebelum Al- Qur’an diturunkan– memang berpendapat adanya tujuh lapis langit. Ini berkaitan dengan pengetahuan mereka bahwa ada tujuh benda langit utama yang jaraknya berbeda-beda. Kesimpulan ini berdasarkan pengamatan mereka atas gerakan benda-benda langit. Benda-benda langit yang lebih cepat geraknya di langit dianggap lebih dekat jaraknya. Lalu ada gambaran seolah-olah benda-benda langit itu berada pada lapisan langit yang berbeda-beda.
Di langit pertama ada bulan, benda langit yang bergerak tercepat sehingga disimpulkan sebagai yang paling dekat. Langit ke dua ditempati Merkurius (bintang Utarid). Venus (bintang kejora) berada di langit ke tiga. Sedangkan matahari ada di langit ke empat. Di langit ke lima ada Mars (bintang Marikh). Di langit ke enam ada Jupiter (bintang Musytari). Langit ke tujuh ditempati Saturnus (bintang Siarah/Zuhal). Itu keyakinan lama yang menganggap bumi sebagai pusat alam semesta.
Orang-orang dahulu juga percaya bahwa ke tujuh benda-benda langit itu mempengaruhi kehidupan di bumi. Pengaruhnya bergantian dari jam ke jam dengan urutan mulai dari yang terjauh, Saturnus, sampai yang terdekat, bulan. Karena itu hari pertama itu disebut Saturday (hari Saturnus) dalam bahasa Inggris atau Doyoubi (hari Saturnus/Dosei) dalam bahasa Jepang. Dalam bahasa Indonesia Saturday adalah Sabtu. Ternyata, kalau kita menghitung hari mundur sampai tahun 1 Masehi, tanggal 1 Januari tahun 1 memang jatuh pada hari Sabtu.
Hari-hari yang lain dipengaruhi oleh benda-benda langit yang lain. Secara berurutan hari-hari itu menjadi Hari Matahari (Sunday, Ahad), Hari Bulan (Monday, Senin), Hari Mars (Selasa), Hari Merkurius (Rabu), Hari Jupiter (Kamis), dan Hari Venus (Jum’at). Itulah asal mula satu pekan menjadi tujuh hari.
Jumlah tujuh hari itu diambil juga oleh orang-orang Arab. Dalam bahasa Arab nama-nama hari disebut berdasarkan urutan: satu, dua, tiga, …, sampai tujuh, yakni ahad, itsnaan, tsalatsah, arba’ah, khamsah, sittah, dan sab’ah. Bahasa Indonesia mengikuti penamaan Arab ini sehingga menjadi Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, dan Sabtu. Hari ke enam disebut secara khusus, Jum’at, karena itulah penamaan yang diberikan Allah di dalam Al-Qur’an yang menunjukkan adanya kewajiban salat Jum’at berjamaah.
Penamaan Minggu berasal dari bahasa Portugis Dominggo yang berarti hari Tuhan. Ini berdasarkan kepercayaan Kristen bahwa pada hari itu Yesus bangkit. Tetapi orang Islam tidak mempercayai hal itu, karenanya lebih menyukai pemakaian “Ahad” daripada “Minggu”.

Makna Tujuh Langit

Langit (samaa’ atau samawat) di dalam Al-Qur’an berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu dan gas yang bertebaran. Dan lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit sama sekali tidak ada. Sedangkan warna biru bukanlah warna langit sesungguhnya. Warna biru dihasilkan dari hamburan cahaya biru dari matahari oleh atmosfer bumi.
Di dalam Al-Qur’an ungkapan ‘tujuh’ atau ‘tujuh puluh’ sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung. Misalnya, di dalam Q.S. Al-Baqarah:261 Allah menjanjikan:
Siapa yang menafkahkan hartanya di jalan Allah ibarat menanam sebiji benih yang menumbuhkan TUJUH tangkai yang masing-masingnya berbuah seratus butir. Allah MELIPATGANDAKAN pahala orang-orang yang dikehendakinya….
Juga di dalam Q.S. Luqman:27:
Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai pena dan lautan menjadi tintanya dan ditambahkan TUJUH lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah….
Jadi ‘tujuh langit’ semestinya difahami pula sebagai tatanan benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit.

Tujuh langit pada Mi’raj

Kisah Isra’ Mi’raj sejak lama telah minimbulkan perdebatan soal tanggal pastinya dan apakah Nabi melakukannya dengan jasad dan ruhnya atau ruhnya saja. Demikian juga dengan hakikat langit. Muhammad Al Banna dari Mesir menyatakan bahwa beberapa ahli tafsir berpendapat Sidratul Muntaha itu adalah Bintang Syi’ra. Tetapi sebagian lainnya, seperti Muhammad Rasyid Ridha dari Mesir, berpendapat bahwa tujuh langit dalam kisah isra’ mi’raj adalah langit ghaib.
Dalam kisah mi’raj itu peristiwa lahiriyah bercampur dengan peristiwa ghaib. Misalnya pertemuan dengan ruh para Nabi, melihat dua sungai di surga dan dua sungai di bumi, serta melihat Baitur Makmur, tempat ibadah para malaikat. Jadi, nampaknya pengertian langit dalam kisah mi’raj itu memang bukan langit lahiriyah yang berisi bintang-bintang, tetapi langit ghaib.

Subhanallah, Maha Suci Alloh… Allohu Akbar… 🙂

Iklan

6 comments on “Misteri Keberadaan Langit Sab 7

  1. KEAJAIBAN ISRA’ MI’RAJ ;….kisah isra’ mi’raj terjadi bermula diketika muhamad diinterogasi para tetangga umm hani perihal keberadaannya diketika ia diketahui menginap di rmh umm-hani anak perempuan abi thalib yg adalah perempuan pujaannya sebelum ia dinikahi janda kaya raya kadijah yg yahudi itu. Tentu saja ia menolak mentah-2 tuduhan tsb karena akan membuat kredibilitasnya terpuruk dimata org. banyak Lantas ia mengarang cerita yg luar biasa dan terkesan sekenanya agar ia terhindar dari tuduhan tsb, bhw ia telah diajak malaikat Jibril mengunjungi Masjidil haram(Makkah) ke Masjidil aqsa(Yerusalem), lantas ke langit sap 7 menemui para nabi sebelumnya dan Tuhan.

    *] kejanggalan pertama ;
    masjidil aqsa di Yersalem di masa muhamad hidup belum di bangun, bila yg dimaksud dlm kisah tsb adalah Baitullah yg didirikan oleh Nabi Sulaiman sekitar th 2000SM, maka ini juga tdk benar, karena secara historis, Baitullah Nabi Sulaiman dihancurkan oleh tentara Romawi tahun 70M hingga rata dg tanah. Diatas bekas Baitullah lantas dibangun Kuil Yupiter oleh tentara Romawi. Baru setelah Yerusalam direbut oleh kerajaan Bizantium(islam) maka dibangunlah The Dome Of Rock pd 691M di atas bekas kuil Yupiter tsb. Lantas pada masa kalifah Abdul Malik bin Marwan dari bani Ummayah(tentu saja sistem kekalifahan ini berlaku setelah muhamad wafat bukan?) maka dibangunlah Masjidil aqsa th 710M di kompleks tsb. Bila penulis blog ini adalah seorang guru, maka cobalah menghitung selisih tahun pembangunan masjid tsb, maka kisah isra’ mi’raj ini yg terjadi pd th 621M terasa aneh bukan..?? lantas logikanya, bagaimana mungkin seseorang melakukan suatu perjalanan kesuatu tempat pd th 691M, padahal tempat tsb baru dibangun 89 th kemudian..?? bukankah bangunan tsb masih berupa kuil Yupiter?? sy curiga kisah ini hasil copy-paste dari kisah seorang nabi Yahudi yaitu Nabi Henokh(nabi idris versi arab) yg melakukan perjalanan yg sama persis pd 1500SM (sebelum muhamad hidup). Mungkin muhamad terinspirasi oleh kitab-2 kadijah yg Yahudi itu

    *] kejanggalan kedua ;
    Dikisahkan oleh Abu Dhaar: Aku bertanya, “Ya Rasulullah! Masjid manakah yang dibangun pertama kali? Beliau menjawab, “Masjidil Haram” Aku bertanya, “Selanjutnya?” Beliau menjawab, “Masjidil Aqsa”. Kemudian aku bertanya, “Berapakah selisih pembangunan keduanya?” Rasulullah menjawab, “Empat puluh (tahun)”,….. (Hadis Bukhari 55:636)

    Benarkah perkataan Muhammad tersebut? Karena secara historis versi islam sendiri, Masjidil Haram dibangun oleh Ibrahim pada 2000 SM, sedangkan Masjidil Aqsa dibangun pada tahun 710 M, maka kalkulasi yang benar terdapat selisih 2.710(duaribu tujuhratus sepuluh) tahun, padahal Muhammad mengatakan hanya 40 tahun. Apakah 40 = 2.710 dalam matematika islamis?

    *]kejanggalan ketiga ;
    lagi-2 kita mesti berhitung lagi, spt dikisahkan, bhw dlm perjalanan tsb, Muhammad bercerita tentang adanya malaikat yang ukurannya lebih besar dari bumi ini. Malaikat yang memiliki 70.000 kepala; setiap kepala memiliki 70.000 wajah. (shg total wajah yg dimilikinya adalah : 4.900.000.000) Setiap wajah memiliki 70.000 mulut (shg total mulut: 343.000.000.000.000) Setiap mulut memiliki 70.000 lidah (shg total lidah: 24.010.000.000.000.000.000) Setiap lidah mampu berbicara dalam 70.000 bahasa (shg total bahasa yang mampu digunakannya adalah : 1,680,700,000,000,000,000,000,000).
    Bagaimana seseorang yg tdk bisa membedakan perbedaan angka 40 dan 2.710 malah dapat mengklaim dan menentukan hitungan sampai 25 digit..??

    …perlu diketahui bhw justru karena kisah-2 macem diataslah yg bikin sy semakin bertanya-2 bagaimana kehidupan sy kelak bila iman hanya didasarkan pada kisah macem begini, shg suatu hari sy memilih murtad karena memang masih banyak kisah konyol yg lainnya macem hari raya kurban dll….

    • Saya sebagai admin blog ini bisa mengerti maksud dari saudara.. mungkin dalam penulisan artikel dan pengutipannya masih ada kekurangan, kami sebagai pengelola masih sangat memerlukan pendapat, kritik, dan saran dalam memperbaiki kekurangan ilmu kami.. disini kita juga masih dalam tahapan belajar. Terima kasih atas saran dari saudara dan tambahan ilmunya.. 🙂

  2. Pak Sultan Samsuzen@ Saya akan menjelaskan sedikit apa yang menjadi pemikiran Bapak..
    Masjid Al-Aqsa atau disebut juga Bait Al-Muqaddas (Al-Quds) artinya rumah suci. Sedangkan pengertian Masjid Al-Aqsa adalah mesjid terjauh. Atau oleh Nabi Muhammad Saw disebut juga mesjid berkubah biru.

    Mesjid Al-Aqsa ini terletak di Kota Yerusalem Timur atau dikenal dengan nama wilayah Al-Haram Asy-Syarif bagi umat Islam atau Har Ha-Bayit (Bukit Bait Allah atau Temple Mount/Kuil Bukit) bagi umat Yahudi dan Nasrani.
    Mesjid ini berukuran 1/6 dari seluruh area Al-Haram Asy-Asyarif di dalam tembok Kota Lama Yerusalem.

    Baitul maqdis (al aqsa) / masjid kubah biru. Ketika Rasul melakukan Isra mi’raj pengertian Al-Aqsa adalah keseluruhan wilayah Al-Haram Asy-Syarif, sedangkan bangunan Mesjid Al-Aqsa seperti sekarang ini secara permanen dibangun oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Kekhalifahan Umayyah (Dinasti Bani Umayyah) pada tahun 66 H dan selesai tahun 73 H.

    Sedangkan masjid yang dibangun oleh umar bin khatab itu adalah masjid sakhrah / kubah emas dibangun di tempat pijakan rasulullah saat isra mi’raj yaitu batu sakhrah. Masjid ini didirikan oleh Umar bin Al-Khattab ra ketika beliau datang ke masjid Al-Aqsha pasca kemenangan umat Islam dalam merebut masjid ini dari tangan bani Israil. Saat itu Umar hendak melakukan shalat dan pada dasarnya tidak ada halangan untuk melakukannya di dalam bangunan masjid Al-Aqsha yang sebelumnya menjadi simbol agama nasrani.

    Namum hati seorang Umar tidak tega untuk melakukan shalat di dalam simbol agama nasrani, sehingga beliau shalat di luar gedung tapi masih di area masjid al-Aqsha. Kemudian tempat di masa Umar bin Al-Khattab shalat itu dijadikan bangunan masjid tersendiri (masjid sahkhrah)

    ini adalah Masjid kubah sakhrah didirikan umar bin khattab
    jadi sangat jelas saat rasulullah isra mi’raj baitul maqdis / masjid al aqsa yang artinya majid (tempat sujud) terjauh, sudah ada. karena penyebutan baitul maqdis adlah untuk seluruh wilayah Al-Haram Asy-Syarif.

    pengertian Masjid Al-Aqsa pada peristiwa Isra’ Mi’raj (Q.S. Al Israa’:1) yaitu meliputi seluruh kawasan Al-Haram asy-Syarif atau Har Ha-Bayit menurut kaum YAHUDI. jadi sudah paham pengertian Masjid al aqsa (tempat sujud terjauh), jadi memang belum dalam bentuk bangunan.
    semoga bermanfaan

  3. kalau boleh sekedar memberi pertanyaan kepada “sultan samsuzen” kalo argumen saya seperti ini, bagaimana :
    “Mungkin mereka hanya lupa ketika terkejut bahwa Nabi Muhammad mengatakan BAIT ALLAH di MAKKAH didirikan 40 tahun sebelum BAIT SUCI di YERUSALEM…
    Mereka ragu dan dengan nada mengejek mengatakan “Ibrahim dan Ismail hidup sekitar tahun 1900 SM – 2000 SM. Raja Salomo (Sulaiman) yang membangun bait Tuhan di Yerusalem hidup sekitar 1000 SM – 950 SM. Jadi ada beda waktu 1000 tahun antara Ismail (yang membangun Masjidil Haram) dengan raja Salomo (yang membangun Bait Tuhan di Yerusalem). Jadi bagaimana bisa dikatakan beda waktu keduanya hanya 40 tahun? “
    Ya…mereka hanya belum tahu dan semoga bukannya tidak mau tahu bahwa Bait Suci Yerusalem didirikan di atas Batu Yakub….dan Yakub mendirikan dan mengurapi Batu Yakub sebagai fondasi Bait Suci Yerusalem…
    Yakub bar Ishak bar Abraham mendirikan batu sebagai tugu awal dari pembangunan Bait Suci Yerusalem…40 tahun setelah kakek dan pamannya mendirikan Bait Allah di Bakkah…Makkah..nun jauh di selatan…Di sebuah lembah diantara deretan Pegunungan Faran..
    Kejadian 28:22 Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah
    dan 1000 tahun kemudian barulah Bait itu berdiri dengan megahnya ditangan seorang bernama Sulaiman alaihissalam…Seorang Nabi dan Raja yang kepadanya ditaklukkan setan dan binatang…
    Benar sekali dan menakjubkan sekali ucapan seorang manusia yang berkata demikian…Seorang yang berkata dan berbicara berdasar wahyu….
    Hadits dari Abu Dzar Al-Gifari ia berkata, aku bertanya kepada Rasulallah SAW, masjid apa yang paling pertama dibangun di muka bumi ini ? Rasul menjawab “Masjid Al-Haram”, Kemudian apa ? “Lalu Masjid Al-Aqsha” Abu Dzar bertanya lagi “Berapa tahun antara keduanya?” Nabi menjawab “40 tahun” (Muttafaq ‘alaihi)
    Sampai hari ini pun Batu Yakub masih berada dalam kompleks Masjidil Aqsha dibawah Kubah Batu Yakub….
    Qubbatus Sakhrah…
    Dome of Rock..”

    Apapun itu, anda punya keyakinan dan bukti sejarah….kami juga, terlepas dari tuduhan bahwa Nabi Muhammad berkhayal, kami juga bisa menuduh kaum Yahudi dan Kristen (bukan nasrani) melakukan pemalsuan sejarah dan kitab (please check kisah sejarah, kaum yg membunuh nabinya sendiri, trus tiba2 ada yg klaim jadi agama mereka, padahal Romawi dulunya berusaha membunuh nabi tsb, setelah menyiksa sampai meninggal kok diakui jadi nabi dan anak tuhan) , jadi apapun itu kami mohon “lakum dinukum waliyadin”….bagiku agamaku (keyakinanku) dan bagimu agamamu (keyakinanmu)….

  4. Allah mengajarkan, bila kita berselisih pendapat, hendaknya kembali kepada Allah dan rasulNya. Kembali kepada Allah, dengan mendekatkan diri sedekat dekatnya dan menanyakan kebenarannya, atau kita mohon pembuktiannya. Inilah tingkat beragama pada level yakin, seperti yang dialami para nabi dan kekasih Allah. Saya yakin sdr Sultan S bukan muslim. saya bisa jelaskan kebenaran Islam dan bagaimana cara membuktikan secara sain atau pengalaman sendiri, tetapi bukan disini. Kepada penulis saya sampaikan bahwa langit adalah batas dari alam dan alam itu ada tujuh lapis adalah benar. Alam yang mempunyai bintang dan benda langit lain adalah alam terendah, alam gelap. Alam diatasnya terbuat dari nur atau nar yang terang. Tujuan Rasulullah di mi’roj kan adalah melihat tanda tanda Allah di langit dan bumi, seperti dialami Ibrahim as dan nabi nabi lain. Kita pun juga bisa tetapi bersifat ruhiah, sedang nabi dengan tubuhnya yang telah dirubah menjadi nur, seperti Adam as ketika awwal diciptakan.
    Tujuan manusia dan alam ini diciptakan adalah agar kita bisa mi’roj sampai mengenal Allah seperti yang dilakukan Rasulullah saw, hanya saja badan kita kita tinggal dibumi. itulah fungsi ilmu yakin yang dijelaskan dalam QS. At Takatsur yang artinya, bila engkau memiliki ilmu yakin, engkau akan melihat nereka jahim.
    Tidak bisa satu halaman untuk menjelaskan hal ini, karena perlu banyak dalil dan beberapa pemahaman yang perlu diluruskan.
    Bila berminat silahkan kontak saya di email
    Semoga anda dilimpahi banyak kebaikan.
    wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s