Masjid Patimburak, Saksi Bisu Sejarah Islam di Tanah Papua Abad 19

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

Sejarahnya

masyarakat setempat mengenal masjid ini sebagai masjid tua patimburak. Menurut catatan sejarah, masjid ini telah berdiri lebih dari 200 tahun yang lalu, bahkan merupakan masjid tertua di kabupaten fakfak. Bangunan yang masih berdiri kokoh dan berfungsi hingga saat ini dibangun pada tahun 1870, seorang imam bernama abuhari kilian.pada masa penjajahan, masjid ini bahkan pernah diterjang bom tentara jepang. Hingga kini, kejadian tersebut menyisakan lubang bekas peluru di pilar masjid. Menurut musa heremba, penyebaran islam di kokas tak lepas dari pengaruh kekuasaan sultan tidore di wilayah papua. Pada abad xv, kesultanan tidore mulai mengenal islam. Sultan ciliaci adalah sultan pertama yang memeluk agama islam. Sejak itulah sedikit demi sedikit agama islam mulai berkembang di daerah kekuasaan kesultanan tidore termasuk kokas.

Cerita dari seorang seorang teman:
Penyelesai Islam-Kristian Di Papua menurutnya

Ibnu Hasyim Catatan Perjalanan

Dari jauh, masjid ini kelihatan seperti gereja. Kubahnya mirip gereja-gereja di Eropah masa lampau. Namun ada empat tiang penyanggan di tengah masjid, menyerupai struktur bangunan Jawa. Interior dalamnya pun hampir sama dengan masjid-masjid di Pulau Jawa yang didirikan oleh para wali.

Pada tahun 1870, Islam dan Kristian sudah menjadi dua agama yang hidup berdampingan di Papua, walaupun Islam diyakini telah ada di Papua jauh sebelum misionaris Nasrani masuk pulau paling timur Indonesia itu. Ketika dua agama ini akhirnya masuk ke wilayahnya, Raja Wertuer I bernama kecil Semempe adalah raja waktu itu, yang masih belum beragama. Tuanku dikatakan tidak mahu rakyanya berbalah fasal agama.

Maka tuanku raja itu pun membuat suatu sayembara untuk menyelesainya. Misionaris Kristian dan imam Muslim dicabar untuk membuat masjid dan gereja masing-masing di situ. Masjid didirikan di Patumburak, dan gereja didirikan di Bahirkendik. Mana yang siap dulu, ertinya penganutnya sudah tentu majoriti atau mampu membantu pemerintah, maka raja dan rakyat Wetuar dikatakan akan memilih agama itu menjadi anutan mereka beramai-ramai.

“Rupanya, masjid yang siap dulu.” ujar juru kunci Masjid Patimburak, Ahmad Kuda, sewaktu ditemui oleh kawan saya yang menzaiarahi Papua baru-baru ini.

“Maka raja dan seluruh rakyatnya pun memeluk Islam. Bahkan Raja bersetuju kemudiannya untuk menjadi imam sembahyang di masjid itu, bahkan dengan pakaian kebesarannya berupa jubah, serban, dan tanda pangkat di bahunya.” Jelas juru kunci Ahmad Kuda kepada kawan saya itu lagi.

Kawan saya ini, saya ketemu dia di Surabaya kira-kira sebulan lepas. Dia buru pulang dari berdakwah di Papua. Saya tanya dia mengenai sejarah Islam masuk ke Papua.

“Fakta lain ialah yang disodorkan oleh Raja Teluk Patipi XVI yang bernama kecil H Ahmad Iba. Dari ruang peribadi, rumahnya berdinding papan di sudut kota Fakfak, Papua Barat, dia mengeluar dan menunjukkan sebuah buntalan putih besar. Isinya: delapan manuskrip kuno berhuruf Arab.” Sambungnya.

Katanya lagi, lima manuskrip berbentuk kitab dengan berbagai ukuran. Yang terbesar berukuran sekitar 50 X 40 cm, berupa mushaf Alquran tulisan tangan di atas kulit kayu yang dirangkai. Empat lainnya, salah satunya bersampul kulit rusa, merupakan kitab hadis, ilmu tauhid, dan kumpulan doa. Ada “tanda tangan” dalam kitab itu, berupa gambar tapak tangan dengan jari terbuka.

Sedang tiga kitab berikutnya, dimasukkan ke dalam buluh bambu dan ditulis di atas daun koba-koba, pohon asli Papua yang kini mulai punah. Sekilas, mirip manuskrip daun lontar yang banyak dijumpai di berbagai wilayah Indonesia Timur, jelasnya lagi.

“Lima manuskrip pertama diyakini masuk ke Papua tahun 1214an, berdasar cerita turun-temurun. Kitab-kitab itu dibawa oleh Syekh Iskandarsyah dari Kerajaan Samudera Pasai di Aceh yang datang menyertai rombongan ekspedisi kerajaannya ke wilayah timur. Mereka masuk lewat Mes, ibukota Kerajaan Teluk Patipi saat itu.

“Kenapa yakin dengan tahun itu? Aku tanya Raja Teluk Patipi XVI itu.

“Jawab Raja itu, “Di Mes masa lalu pernah ditemukan gambar tapak tangan yang detilnya mirip dengan gambar yang sama di manuskrip Alquran kuno berangka tahun sama.

“Tapak tangan yang sama juga dijumpai di Teluk Etna (Kaimana) dan Merauke. Raja itu mendapat cerita dari kakek buyutnya, lagi-lagi cerita turun-temurun, yang menyebut sebuah tsunami besar pernah menyapu bersih Mes, itu pula yang membuat ibu kota kerajaan itu dipindahkan ke Teluk Patipi.

“Dalam musibah itu, seluruh harta benda habis, “Termasuk kitab-kitab ajaran alif lam lam ha (maksudnya ejaan Allah, ajaran Islam adalah memerintahkan manusia menyembah Allah),” ujar Raja itu.

Pada saya uniknya masjid inii ialah kerana hasil usaha penyelesaian dari pertikaian antara dua agama. Satu contoh baik, bagi sebuah kerajaan yang masyarakatnnya majmuk seperti Malaysia. Mungkin banyak lagi manfaat-manfaat lain yang mungkin boleh dicungkil korek dari kisah pertikaian dua agama seperti yang diselesaikan tersebut.


Kondisi Masjid

Masjid Patimburak 1:
Masjid Patimburak 2:
Dalam Masjid:

aura tradisional muncul saat menyambangi lokasi masjid tua ini. Di kampung yang dihuni tak lebih dari 35 kepala keluarga tersebut didapati kesederhanaan yang menyatu dari bangunan masjid dan kehidupan masyarakatnya.sekilas bangunan masjid seluas tidak lebih dari 100 meter persegi ini tampak biasa. Namun coba perhatikan lebih seksama. Masjid ini memiliki keunikan pada arsitekturnya, yaitu perpaduan bentuk masjid dan gereja. Musa heremba, imam masjid patimburak mengaku bangunan masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi. Meski mempertahankan bentuk aslinya, namun material asli yang belum diganti adalah empat buah pilar penyangga yang terdapat di dalam masjid.di pelataran masjid, sebuah pohon mangga kokoh berdiri. Namun, bukan sembarang pohon mangga. Dari ukuran batangnya, bisa dipastikan usia pohon raksasa ini tak terpaut jauh dengan usia masjid. Syahdan, perlu empat rentang tangan orang dewasa untuk merengkuh keseluruhan batang pohon ini.

Aksesibilitas

Menggunakan Longboat:
untuk mencapai masjid tua patimburak, sudah jelas kalau orang2 dari luar pulau ini bisa harus menggunakan transportasi laut dan udara untuk mencapai tempat ini… Setelah itu harus menempuh perjalanan darat dari fakfak ke kokas. Tersedia angkutan luar kota dari terminal kota fakfak. Selama 2 jam anda akan menyusur jalan berkelok dan segarnya udara pegunungan. Tiba di kota kokas, perjalanan menuju kampung patimburak harus dilanjutkan menggunakan longboat sewaan.pemandangan selama 1 jam mengendarai long boat.jika menggunakan long boat, pengunjung yang ingin menuju masjid tua patimburak bisa menikmati keindahan pulau-pulau karang yang indah di sepanjang perjalanan.
Semoga artikel ini bisa menjadi penambah pengetahuan kita tentang sejarah penyebaran Islam di Nusantara dan juga bisa menjadi salah satu referensi wisata religi anda… Barakallah… 🙂
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s