Islam Adalah Akhir Pencarian Kebenaran

(Kisah Keislaman Dr. Louis Emilio Bolsoni)

Namaku Louis Emilio Bolsoni, lahir pada 18 Oktober 1966 M. Ayahku bernama Evo Bolsoni, seorang arsitek dan ibuku bernama Anna Redondo Bolsoni. Walaupun kedua orang tuaku tidak berkesempatan belajar di sekolah tinggi, namun ibuku senantiasa mencurahkan tenaga untuk memudahkan diriku, saudara perempuan dan laki-lakiku belajar di sekolah yang bagus. Tetapi kondisi di sini, di Brasil, tidaklah menggembirakan. Sekolah-sekolah umum tingkat dasar dan menengah tidak membekali orang yang masuk padanya untuk memasuki pendidikan tinggi.

Aku berkesempatan belajar di sekolah dasar dan menengah unggulan di kota kami. Nomorku adalah kedua dalam ujian masuk perguruan tinggi. Kuliahku di Jurusan Ilmu Kesehatan Gigi di Universitas Sao Paulo dimulai tahun 1985 M, dan aku menyelesaikan studi pada 17 Desember 1988 M. Ketika itu usiaku 22 tahun. Aku berusaha terus berada di universitas. Nilai indeks prestasiku layak untuk mendapatkan profesi akademik di universitas. Tapi problem ekonomi memaksaku mencari pekerjaan. Aku ikut seleksi calon pegawai, dan aku menempati urutan ke-7. Aku menerima profesiku sebagai dokter gigi di kota kami, Sao Bernardo, tertanggal 10 Oktober 1989 M, di mana aku masih bekerja disana sampai saat ini.

Adapun tentang hubunganku dengan agama Nasrani, karena aku terlahir dalam keluarga Kristen Katolik, kedua orang tuaku tekun mendidikku dalam agama Kristen. Sekolah dasar yang aku masuki merupakan sekolah Kristen dan aku bisa pergi ke gereja tiap hari Minggu, serta belajar dari beberapa aktivitas di kampung.

Perkenalan pertamaku dengan Islam adalah ketika aku di universitas. Aku orang yang memiliki perhatian terhadap seni, sehingga akupun mempelajari materi seni kecantikan (disinilah aku mengenal istriku). Aku menguasai beberapa konsep dasar filsafat, arsitektur bangunan dan musik. Itulah konsep-konsep utama, akan tetapi hakikatnya berasal dari transformasi Islam dan ajaran-ajarannya ke dunia barat serta bagaimana ajaran-ajaran tersebut mewarnai sisi-sisi kehidupan yang bisa kita lihat, kita dengar dan kita rasakan sekarang ini.

Sampai saat ini aku hanya seorang pengamat asing, namun aku sangat terpesona oleh perkembangan Islam yang pesat dalam ilmu matematika, kedokteran, farmasi, dan ilmu falak (astronomi) serta lainnya. Mulailah pertanyaan-pertanyaan tentang hal itu berkecamuk dalam alam pikiranku. Bagaimana suatu peradaban bisa mencapai tingkatan yang paling tinggi dalam budaya, seni, dan undang-undang? Bagaimana mereka mampu mengaplikasikan norma-norma akhlak dalam kehidupan dalam kehidupan nyata secara detail dan komprehensif, sementara segalanya hanya menunjuk pada satu arah, yakni Al-Qur’an dan Nabi Islam? Memang aku bisa membayangkan urgensi Al-Qur’an, dan sebagai penganut Nasrani aku bisa membandingkan hal itu dengan Injil. Tetapi bagaimana kitab ini (Al-Qur’an) dan nabi yang menerimanya bisa membuat satu perubahan yang sangat substantive dalam peradaban selama beberapa tahun saja?

Pada bulan Agustus 1995 M, aku mencari berbagai Islamic Center yang memprioritaskan penyebaran agama Islam di sini, Sao Bernardo. Aku ingin belajar bahasa Arab dan mengetahui lebih banyak tentang Al-Qur’an. Pencarian ini menuntunku masuk Islam. Selang tiga bulan tepatnya pada tanggal 13 Oktober 1995 M, aku telah menjadi seorang muslim. Aku yakin bahwa perkenalan ini merupakan akhir pencarian manusia. Sebab, manusia adalah makhluk Alloh yang Maha Tunggal, yang mesti menuju kepada-Nya. Bagaimana mungkin tabiat dasar manusia buta dari hakikat yang terang benderang ini? Kebutaan inilah yang telah menyebabkan dan selalu akan menyebabkan kepediahan-kepedihan yang dialami manusia di hari ini.

Aku masih ingat dengan baik perasaanku ketika mendengar seorang syaikh melantunkan Al-Quran, sebelum aku masuk Islam. Walaupun saat itu aku belum mengerti bahasa Arab, namun hal itu telah menyentuh bagian tertentu dalam jiwaku. Inilah yang sekarang aku telah sampai padanya, yakni “La ilaha illalloh, Muhammadur rosulullah”.

Kini aku bisa mengatakan bahwa aku telah mampu melihat, mendengar dan merasakan hakikat firman-Nya :
إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (Al-Ahqof [46]: 15)

Istriku, Simone, sedikit merasa ketakutan, namun tidak sedikitpun yang menjadi kenyataan. Apabila engkau memberinya sedikit kesempatan, maka ia akan mengambil seluruh hatimu dan membimbing dirimu ke jalan yang lurus. Selang beberapa waktu, alhamdulillah ia masuk Islam.

Kami mempunyai dua orang putri, Louisa berusia 6 tahun dan Karimah berusia 2 tahun. Louisa sedang berangkat ke sekolah Islam di sini, Sao Paulo, di mana ia bisa menerima pelajaran bahasa Arab dan hidup dalam iklim Islami. Edangkan kami di sini, di rumah, selalu mendiskusikan dan berupaya membimbing mereka ke arah Islam.

Selama lima tahun sejak masuk Islam, akau senantiasa berusaha memperbaiki pengetahuanku akan Al-Qur’an dan agama. Aku belajar Al-Qur’an dan ilmu tajwid bersama Syaikh ‘Ali Al-Abduni, Direktur Kantor WAMY (World Assembly Moslem Youth) di Brasil, sedang Syaikh Muhammad ada di hadapannya. Aku juga belajar beberapa hal tentang hadits, figh, dan nahwu (tata bahasa Arab) bersama Syaikh ‘Ali Al-Abduni.

Aku memohon kepada Alloh semoga membimbing kita ke jalan yang lurus.17)

17) Bersumber dari brosur An-Nadwatu I-Alamiyyah li sy-Syababi I-Islami (WAMY).

Semoga cerita ini bisa menjadi penguat iman kita kepada Allah SWT. Bahwa hanya Islam lah Agama untuk seluruh Alam.. 🙂

Iklan

4 comments on “Islam Adalah Akhir Pencarian Kebenaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s