Perspektif Eko-Teologis Banjir

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mutohharun Jinan
(Kandidat Doktor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta)

 IMG_20140124_164646

“Maka mereka mendustakan Nuh as, kemudian kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera. Dan kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata-hatinya).”
(Q.S. al-A’raf [7]: 64)

Mungkin negeri kita tercinta Indonesia ini layak disebut sebagai “Negeri Seribu Bencana”. Negeri yang memiliki dua musim, kemarau dan hujan, selalu beriringan dengan dua jenis bencana. Bila musim kemarau menghampiri, maka bencana kebakaran, kekeringan, dan kelaparan segera tersiar. Sebaliknya, bilamusim hujan tiba, berita yang beredar adalah bencana banjir, tanah longsor, ribuan penduduk mengungsi, penyakit, ratusan hektar sawah tergenang air, ribuan rumah rusak dan berita-berita duka lainnya.

Persoalannya adalah mengapa banjir selalu menghampiri kita pada setiap musim hujan tiba? Bukankah banjir merupakan peristiwa alam yang dapat dipikirkan dan ditanggulangi sebelumnya? Seberapa efektifkah upaya preventif untuk menanggulangi banjir? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini ternyata cukup beragam.

Bagi orang yang memahami ilmu lingkungan (Ekologi) akan mengatakan, bahwa banjir adalah peristiwa yang dapat diprediksi. Bagi orang yang mempercayai mitos, banjir merupakan kemarahan roh leluhur, karena kita tidak lagi melakukan ruwatan dan mempersembahkan sesaji untuk mereka. Sedangkan kelompok penganut agama mengatakan, bahwa banjir merupakan “kemurkaan dan kutukan Tuhan” yang ditimpakan kepada manusia. Ini pandangan teologis yang paling poluler di kalangan umat beragama.

Melanggar Ayat Tuhan?

Bencana banjir yang sekarang sedang menghampiri kota-kota besar tidak hanya sebagai peristiwa alam semesta, tetapi juga terkait erat dengan pandangan teologis manusia terhadap lingkungan sekitar. Munculnya pandangan teologis, bahwa banjir merupakan bentuk “kutukan Tuhan” memang bukan tanpa alas an. Banyak kisah dalam Kitab Suci yang menyiratkan hal itu. Misalnya dalam Al-Quran dikisahkan banjir pada zaman Nabi Nuh as., Nabi Hud as., dan banjir di Negeri Saba’. Perhatikan Firman Allah berikut:

“Mereka berkata: “Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (Q.S. Hud [11]: 32-37)

“Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu, lalu bertaubatlah kepada-Ny niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akam menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (Q.S. Hud [Hud]: 52-53)

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rizki yang (dianugerahkan) Tuhanmu, dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Pengampun. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsi dan sedikit dari pohon sidr.” (Q.S. Saba’ [34]: 15-16).

Sebagian besar tafsir atas ayat-ayat tersebut menyatakan, bahwa terjadinya banjir merupakan kehendak Tuhan yang sedang murka, lantaran umat manusia tidak mau mengikuti ajaran para Nabi, tetapi malah mencemooh dan menentangnya. Begitulah kesimpulan para agamawan yang mengabaikan pendekatan ekologis dalam menafsirkan teks.

Penafsiran secara tekstual semata, tanpa disertai dengan pengetahuan masalah ekologi yang memadai akan dapat memunculkan pemahaman yang kurang peka terhadap konservasi ekologi. Dalam ayat al-Quran (Q.S. al-A’raf [7]: 64) misalnya, disebutkan bahwa banjir yang menenggelamkan manusia terjadi Karena manusia mengingkari Ayat-ayat Tuhan. Perhatika Firman Allah berikut:

“Maka mereka mendustakan Nuh as, kemudian Kami selamatkan dian dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera. Dan kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kmai. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata-hatinya).” (Q.S. al-A’raf [7]: 64)

Kata “Ayat” seringkali hanya dipahami sebagai Firman Tuhan berupa Kitab Suci. Padahal sebenarnya kata “Ayat” juga berarti ‘tanda-tanda’ (ciptaan Tuhan) berupa alam semesta, seperti: manusia, hewan, matahari, bulan, air, gunung, angina, tanah datar dan tinggi, pepohonan dan seterusnya, yang masing-masing memiliki hukum-hukum keseimbangan tersendiri. Tatkala hukum-hukum itu dilanggar, maka terjadilah ketidakseimbangan hingga timbul bencana.

Dengan pemahaman seperti itu, sesungguhnya begitu banyak tingkah laku manusia yang termasuk melanggar dan mengingkari Ayat-ayat Tuhan. Berbagai bentuk pelanggaran terhadap Ayat-ayat Tuhan adalah mengeksploitasi alam secara berlebihan sampai tidak memperhatikan keseimbangannya, emmbuang sampah yang tidak pada tempatnya, sehingga menyumbat laju air yang memiliki sifat mengalir menuju ke tempat yang lebih rendah, menebang hutan lindung secara liar sehingga menyebabkan erosi atau longsor, dan sebagainya.

Pendekatan Eko-Teologis

Kesadaran Eko-Teologis (iman berwawasan lingkungan) inilah yang belum tertanam dalam masyarakat agamis. Sekaranglah saatnya mengkampanyekan kesadaran Eko-Teologis itu, bahwa menjaga kebersihan lingkungan merupakan bagian dari ciri utama seorang yang beriman. Menanamkan kesadaran, bahwa membuang sampah pada tempatnya yang telah disediakan sebagai bagian dari perintah Tuhan, dan menjaga kelestarian lingkungan berupa memelihara hutan lindung merupakan perbuatan yang diserukan di dalam Kitab Suci.

Anggapan bahwa banjir merupakan ekspresi kemurkaan Tuhan kepada manusia harus segera direvisi. Sikap teologis demikina dapat diterima untuk banjir-banjir legendaris yang tejadi secara alami di masa lampau. Sedangkan untuk jenis banjir masa kini, tampaknya sudah tidak sesuai lagi. Sebabnya, terjadinya banjir di masa modern lebih dominan dipengaruhi oleh ulah dan perbuatan manusia dalam mengelola lingkungan. Dengan demikian, konsep teologi banjir konvensional itu sudah tidak relevan lagi dan perlu dirumuskan konsep teologi baru.

Secara definitif, banjir merupakan peristiwa alam berupa peningkatan debit air secara cepat, sehingga meluap dari palungnya dan menggenangi daerah sekitarnya secara temporer. Banjir merupakan fenomena alam yang terjadi mengikuti hukum alam. Oleh karena itu, proses kejadiannya dapat dipikirkan berdasarkan penalaran hukum alam dan dapat diantisipasi secara preventif berdasarkan kaidah hukum alam pula.

Bukan Kutukan Tuhan

Banjir bukanlah kutukan Tuhan kepada manusia yang disebabkan karena manusia tidak mau menerima kehadiran Tuhan dalam dirinya. Akan tetapi, banjir merupakan fenomena ekologis yang disebabkan, karena kesalahan perilaku manusia dalam mengelola lingkungan, atau dalam bahasa yang lain, menentang hukum lingkungan. Hal ini didasarkan pada fakta empiris, bahwa banjir di masa kini lebih dominan diakibatkan oleh kesalahan dan kerakusan manusia dalam mengeksploitasi lingkungan. Setidaknya itulah yang dapat kita tangkap dari isyarat Tuhan berikut ini.

“Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar-Rum [30]: 41).

Eksploitasi berlebihan terhadap alam atau lingkungan merupakan salah satu factor utama terjadinya krisis ekologis global yang sedang melanda kehidupan manusia modern. Teknologi yang dijadikan penyangga kehidupan berdampak pada tidak terkendalinya sikap untuk menguasai alam secara rakus dan berlebihan. Gejala seperti ini tampak ketika ditemukan, bahwa bencan alam, banjir dan tanah longsor, terjadi karena orang menggunduli hutan secara membabi-buta.

Dari paparan di atas dapat dipertegas, bahwa bencana banjir yang setiap tahun menghampiri kita ini disebabkan oleh dua factor. Pertama, disebabkan oleh sikap teologis konvensional yang tidak memihak pada kesadaran ekologi. Sikap bahwa banjir adalah ujian atau kutukan dari Tuhan membuat kita bersikap pasif, atau tidak berusaha menanggulanginya. Kedua, karena kerakusan manusia yang merasa sebagai penguasa tunggal di bumi. Ini lazim disebut dengan paham antrophosentrisme, suatu paham yang menempatkan manusia sebgai penguasa alam, bukan sebagai pengelola dan pemakmur bumi.

Oleh karena itu, kita perlu menafsirkan ulang Firman Tuhan tentang banjir dan bencana alam lainnya dengan pendekatan ekologis. Sebaliknya, pendekatan ekologis –yang didasarkan pada paham antrophosentrisme—juga harus dihiasi dengan visi keTuhanan. Tafsir berwawasan lingkungan semakin terasa mendesak dibutuhkan, mengingat hamper setiap hari kita menyaksikan berita duka, akibat bencana alam.

Refleksi teologis demikian akan melahirkan sikap ekologi positif dan sikap bertanggung jawab manusia terhadap kejadian-kejadian yang menyesakkan nafas kehidupan. Karena manusia modern cukup dominan dalam pengelolaan lingkungan yang potensial menjadi penyebab banjir, maka manusia merupakan makhluk yang paling bertanggung jawab terhadap fenomena banjir dan bertanggung jawab pula untuk mencegahnya.

Untuk menumbuhkan kesadaran Eko-Teologis di tengah masyarakat, setidaknya dapat dilakukan dengan cara sederhana sampai pada perubahan paradigma teologis. Cara yang sederhana, misalnya; para pemuka agama, juru dakwah, dan khatib dihimbau untuk memperbanyak tema-tema dakwah yang berkaitan langsung dengan kebersihan dan kenyamanan lingkungan. Forum-forum keagamaan selama ini, harus diakui, masih mengedepankan tema-tema keimanan dalam arti yang sempit.

Dengan begitu, menyikapi bencana banjir secara pasif dan menganggap sebagai kemurkaan Tuhan, sama sekali tidak akan membantu keluar dari masalah ini. Kita harus mengembangkan sikap positif, bahwa banjir merupakan peristiwa yang dapat dihindari sejak dini. Sekali lagi, bencan banjir bukanlah kutukan Tuhan. Bukanlah Tuhan adalah Maha Pengasih dan Penyayang terhadap semua ciptaan-Nya?

Sumber: Suara Masjid Nomor:81/Tahun III/18 Januari 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s