Urgensi Jurnalisme Islam (Berdakwah Melalui Karya Jurnalistik)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sulthon Dja’far
(Sekretaris Eksekutif Yayasan Pendididkan Tinggi Dakwah Islam, Jakarta)

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahkan mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya, Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya. Dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (Q.S. an-Nahl [16]: 125)

Pengertian Jurnalisme Islam

Di dalam kehidupan sehari-hari kita seringkali mendengar istilah Jurnalistik (Jurnalisme) dan Pers. Tetapi, di dalam praktek-kerjanya, kedua istilah tersebut memiliki kesamaan pengertian. Baik Jurnalistik (Jurnalisme) maupun Pers, keduanya adalah sebuah aktivitas pewartaan, yakni sebuah teknik bagaimana mencari dan mengungkap sebuah fakta atau peristiwa untuk kemudian disajikan kepada khalayak dalam bentuk kemasan yang menarik, baik melalui media cetak (seperti: Buletin, Jurnal, Koran, Tabloid, Majalah dan lain-lain) maupun media elektronik (seperti: Radio, TV, Internet, dan lain-lain.

Sedangkan Jurnalisme Islam yang dimaksud dalam tulisan sederhana ini adalah sebuah aktivitas jurnalistik (yang meliputi: proses pengumpulan fakta, penulisan, penyutingan dan penyiaran berita) yang senantiasa mengedepankan semangat agama (Islam), yakni selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, kejujuran, keadilan dan kebenaran, selalu mengedepankan prasangka baik (khusnudzan) dan menghindari prasangka buruk (su’udzan).

Jadi, sesungguhnya Jurnalisme Islam adalah sebuah kerja jurnalistik yang tidak hanya semata-mata berorientasi bisnis (business oriented), melainkan yang lebih utama adalah juga membawa misi bagaimana mewujudkan dan membumikan niali-nilai Islam (seperti: menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, kejujuran, keadilan dan kebenaran) di tengah kehidupan umat manusia melalui sebuah karya jurnalistik tersebut.

Ciri-ciri Jurnalisme Islam

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa Islam adalah sebuah agama yang membawa ajaran “Rahmatan Lil-‘Alamain”. Oleh karena itu, ketika kata “Jurnalisme” disandingkan dengan kata “Islam”, sehingga menjadi “Jurnalisme Islam”, maka yang dimaksud adalah bahwa semua karya jurnalistik yang dihasilkan akan senantiasa memberikan rahmat bagi seluruh alam. Manakala kita setuju dengan hal ini, maka paling tidak –di dalam tataran ideologis—ada beberapa ciri atau “kata kunci” yang harus disepakati untuk dapat mewujudkan sebuah Jurnalisme Islam yang dimaksud.

Kata kunci pertama, kaffah (menyeluruh). Dalam arti, ruh Islam harus dimasukkan ke dalam konsep jurnalistik secara utuh sejak dari perencanaan, pelaksanaan hingga kapanpun berakhir. Kalau Islam sudah dijadikan ukuran secara utuh (kaffah), maka bisa dipastikan sebuah karya jurnalistik yang akan hadir di masyarakat adalah karya-karya jurnalistik yang menyejukkan dan mendamaikan hati umat, bukan sebaliknya, menjadi karya jurnalistik yang hanya mengumbar hawa nafsu atau cenderung memprovokasi massa agar selalu bercerai-berai dan saling bermusuhan satu sama lain.

Kata kunci kedua, kebenaran. Komitmen terhadap kebenaran harus menjadi ciri dari sebuah Jurnalisme Islam. Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT banyak memberikan isyarat tentang arti penting sebuah kebenaran. Surat Ali Imran [3] ayat 110 misalnya, telah menyatakan secara jelas, bahwa “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, yang menyeru kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Dan yang beriman kepada Allah.” Menyeru kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, tentu tidak dapat dilepaskan dari komitmen terhadap kebenaran.

Pertanyaaan sederhana yang kemudian layak dikemukakan adalah: “Mengapa Islam sangat menganjurkan dinyatakannya kebenaran?” Barangkali jawabnya sangat simple dan sederhana pula, yakni agar tercipta sebuah keteraturan dan ketentraman di tengah kehidupan umat manusia. Oleh karena itu, sebuah karya Jurnalisme Islam harus senantiasa menjunjung tinggi kebenaran agar dapat menciptakan kehidupan yang damai dan tenteram.

Kata kunci ketiga, keadilan, Islam menempatkan keadilan di dalam posisi yang sangat tinggi. “Keadilan”, sebagaimana juga “kebenaran”, seharusnya senantiasa hadir di tengah kehidupan bermasyarakat, dimanapun dan kapanpun. Ibarat sekeping mata-uang, maka “kebenaran” dan “keadilan” adalah dua sisi dari mata-uang itu sendiri. Dalam konteks Jurnalisme Islam, maka keadilan dan kebenaran harus selalu menjadi kekuatan agar dapat melahirkan karya jurnalistik yang tepercaya, kokoh dan solid.

Perhatikan Firman Allah SWT berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan jangan seklai-kali kebencianmu kepada sesuatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adil-lah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. al-Maidah [5]: 8)

Kata kunci keempat, kebijaksanaan. Jika ketiga ciri di atas lebih membimbing kea rah pembentukan sikap, maka ciri yang keempat ini memiliki dimensi “metodis”. Kebijaksanaan tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak menyatakan kebenaran. Sebab kebijaksanaan dalam pengertian ini berdimansi instrumental. Dengan pengertian, bahwa caranya yang disesuaikan, akan tetapi kebenaran tidak dipertukarkan.

Kata kunci kelima, kemerdekaan. Tidak dapat disangkal, bahwa hanya orang- orang yang merdeka yang dapat dengan bebas menyatakan kebenaran. Hanya manusia-manusia yang merdeka yang dapat berlaku adil. Dan hanya manusia-manusia merdeka yang dapat menyatakan kebenaran itu dengan hikmah (bijaksana). Jiwa merdeka adalah persyaratan dasar bagi seorang Muslim dalam berjuang untuk tegaknya Islam melalui Jurnalisme Islam. Oleh karena itu, jiwa merdeka harus mewarnai Jurnalisme Islam, jika mereka memang memiliki kepedulian dan kepentingan terhadap hari depan umat manusia yang lebih baik. Tanpa persyaratan ini, maka sebuah karya jurnalistik hanya kan menjadi sebuah barang komoditi semata.

Masa depan umat manusia akan sangat ditentukan oleh lahirnya generasi baru yang berjiwa merdeka. Dan lahirnya generasi baru yang berjiwa merdeka akan sangat ditentukan oleh kemampuan berinteraksi secara pas, dimana setiap diri seorang Muslim harus bisa berfungsi sebagai “cermin kolektif” bagi seorang Muslim yang lainnya.

Kata kunci keenam, professional. Secara sederhana, “profesionalisme” bisa dibahasakan dengan “Bekerja secara sungguh-sungguh di jalan Allah dengan mengoptimalkan semua potensi yang dimiliki.” Dan Itu berarti antar-sesama manusia, atau lebih khusus lagi antar-sesama Muslim, harus saling berpacu di dalam kualitas (fastabiqul-khairat). Di dalam konteks seperti ini, maka hanya manusia-manusia yang memiliki “konsep” dan “spesialisasi” yang kan mampu bertahan hidup, dalam arti akan bermanfaat bagi sesamanya.

Wajah Jurnalisme Islam

Kita harus mengakui secara jujur, bahwa kondisi Jurnalisme Islam di negeri ini, secara umum belumlah menggembirakan, terutama karena masih jauh  dari tataran ideal sebagaimana dipaparkan di atas. Dilihat dari sudut pandang kualitas (mutu) maupun kuantitas (jumlah), Jurnalisme Islam jauh tertinggal manakala dibandingkan dengan jurnalisme yang tidak menggunakan label Islam –untuk tidak menyebut jurnalisme yang tidak Islami. Ada beberapa analisa yang relative cukup komprehensif yang menyatakan, bahwa pada umumnya umat Islam, khususnya di Indonesia, relative sangat sedikit yang memiliki perhatian terhadap dunia jurnalistik. Akibatnya, kekuatan Jurnalisme Islam, disadari atau tidak, menjadi ‘melemah’.

Ketika kekuatan sebuah Jurnalisme Islam di Indonesia “lemah”, maka umat Islam di Indonesia seharusnya “patut khawatir”. Karena kalau memang hal itu betul adanya, maka umat Islam akan mudah dijadikan obyek berita dan diombang-ambingkan oleh lawan (terutama kaum non-Muslim), apalagi kita hidup di era globalisasi seperti sekarang ini. Goenawan Mohamad, Wartawan Senior TEMPO pernah menyatakan, bahwa “informasi adalah kekuasaan”. Artinya, siapa yang mampu menguasai informasi, maka ia akan mampu menguasai kekuasaan. Dan semakin banyak seseorang menguasai informasi, maka peluang untuk menguasai kekuasaan menjadi lebih besar.

Fenomena berbeda, bahkan sangat kontras sehubungan dengan kekuatan Jurnalisme Islam adalah demikian majunya karya jurnalistik yang tanpa menggunakan label Islam (sebut saja: Jurnalisme Sekuler). Tidak bisa dipungkiri, bahwa mereka telah menguasai dan menfaatkan secara maksimal berbagai sarana teknologi modern untuk menampilkan dan menyuguhkan sebuah karya jurnalistik yang enak dibaca, lugas,informative, dan dengan performance (tampilan) yang cukup memikat perhatian banyak kalangan. Untuk menghadirkan sebuah karya jurnalistik seperti itu, mereka melakukannya secara ‘bersengaja’. Pembuatan planning, studi kelayakan, penyiapan SDM yang unggul dan andal, pelatihan-pelatihan SDM hingga analisa keuangan dan pasar (bisnis), bahkan untuk jangka menengah dan panjang sudah direncanakan secara matang dan terprogram.

Hal itu sangat berbeda dengan “wajah” Jurnalisme Islam yang terkesan digarap secara “asal-asalan”, SDM yang asal comot (sehingga minim pengetahuan dan skill), kurang bersengaja, dan terkesan asal terbit. Pendek kata, persoalan kualitas, performance dan analisa keuangan dan pasar yang sebenarnya menjadi standart minimal sebuah karya jurnalistik –disamping ketersediaan SDM yang handal—kurang mendapatkan perhatian serius dari pelaku Jurnalisme Islam. Agaknya tidak terlalu sulit untuk membuktikan pernyataan semacam ini.

Intinya, hingga saat ini Jurnalisme Sekuler jauh lebih unggul, lebih berkualitas dan lebih banyak daripada Jurnalisme Islam. Mengapa demikian? Karena mereka memiliki visi dan misi yang jelas dan bersifat pasti. Dan lebih dari itu, Jurnalisme Sekuler cenderung selalu dikelola secara total dan professional dengan tetap memperhatikan sisi bisnis.

Bagi mereka, mempublikasikan masalah pornografi, life style, perdukunan hingga materi-materi bersifat provokatif jauh lebih menguntungkan disbanding dengan mempublikasikan materi-materi yang bernuansa dakwah (agama). Disinilah sebenarnya sisi perbedaan antara Jurnalisme Islam dengan Jurnalisme Sekuler.

Kelemahan kedua yang melekat pada diri umat Islam Indonesia adalah malas membaca buku. Salah satu ‘budaya jelek’ manusia Indonesia, sebagaimana dituturkan oleh Mochtar Lubis, di dalam bukunya “Manusia Indonesia: Sebuah Pertanggungjawaban” menegaskan, bahwa orang Indonesia cenderung bermalas-malasan, akibat alam kita yang begini murah hati dan kaya raya.

Sungguh, hal yang satu ini merupakan sebuha ironi. Bagaimana tidak? Di suatu sisi, manusia Indonesia (utamanya umat Islam) malas membaca buku, sementara di sisi yang lain, Firman Allah SWT yang pertama kali diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW adalah justru berisi perintah tentang “membaca”.

Ketika umat Islam –dan umat mana saja—malas membaca buku, maka bisa dipastikan mereka akan tertinggal –atau bahkan tergilas—oleh roda sejarah. Pada akhirnya, umat Islam akan selalu tertinggal dalam segala hal. Ujung-ujungnya, umat Islam tidak memiliki “daya tawar” yang baik dalam menghadapi segala persoalan.
Jika umat Islam tidak menghendaki keadaan seperti itu, maka tidak ada jalan lain kecuali menjadikan “membaca” sebagai sebuah budaya di tengah masyarakat, dimanapun berada. Semakin banyak membaca, maka wawasan seseorang akan semakin luas, dan akan teruspacu untuk membaca, membaca dan membaca.

Ketiga, lemahnya manajemen keuangan umat Islam di Indonesia juga sangat berpengaruh kepada kuat atau lemahnya Jurnalisme Islam itu sendiri. Sebenarnya, jumlah penduduk yang mayoritas beragama Islam di negeri ini belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai sebuah potensi besar untuk menghimpun dana yang kemudian bisa disalurkan kepada aktivitas yang positif untuk kepentingan umat dan dakwah Islam.

Umumnya, kalaupun ada dana yang berhasil dihimpun dari umat, maka dana itu selalu dihabiskan untuk kepentingan-kepentingan yang bersifat pembangunan fisik semata, seperti: membangaun Masjid, Mushalla dan lembaga-lembaga pendidikan Islam, dan sangat sedikit –untuk tidak mengatakan tidak sama sekali—yang perfikir, bahwa sebagai dana tersebut akan lebih strategis manakala digunakan untuk kegiatan produktif yang pada saatnya kelak bisa memajukan sekaligus mencerdaskan umat (Islam).

Khotimah

Banyaknya pemeluk Islam di negeri ini, sesungguhnya merupakan sebuah potensi besar. Untuk memilih orang-orang Islam yang berkualitas yang memiliki perhatian dan background pendidikan jurnalistik yang baik sebenarnya merupakan sebuah pekerjaan yang tidak terlalu sulit. Persoalannya adalah siapa yang akan melakukan pekerjaan ini, dan kapan akan dimulai.

Kemudian di sisi yang lain, banyaknya jumlah umat Islam di Indonesia, secara ekonomi juga merupakan pasar yang sangat potensial, manakala kita memiliki sebuah karya Jurnalistik Islam yang digarap secara serius dengan perencanaan yang matang. Jika hal ini difahami dan dilaksanakan dengan baik, maka tanpa terasa, misi dakwah Islam amar makruf nahi munkar juga akan berjalan dengan baik, bahkan lebih efektif, jika dibandingkan dengan berdakwah  melalui cara-cara konvensional, seperti berkhutbah dari masjid ke masjid, atau dari mushalla ke mushalla.

Akhirnya, mari kita ikut berperan aktif dalam mewujudkan terbangunnya Jurnalisme Islam di bumi Indonesia tercinta ini. (sew)

Sumber: Suara Masjid Nomor: 85/Tahun III/15 Februari 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s