Membangun Keikhlasan Dalam Beramal

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dr. Attabiq Luthfi, M.A.
(Dosen Universitas Al-Azhar Indonesia, Jakarta)

“Tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (bekerja dengan ikhlas). Mereka itu memperoleh rezki yang tertentu, yaitu buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan, di dalam syurga-syurga yang penuh kenikmatan.”
(Q.S. ash-Shoffat [37]: 40-43)

                Sesungguhnya kehidupan ini memang diciptakan oleh Allah SWT untuk menguji siapa di antara hamba-Nya yang paling banyak dan paling baik dalam beramal. Beramal merupakan inti dari keberadaan manusia di dunia ini. Tanpa amal, maka manusia akan kehilangan fungsi dan peran utamanya dalam menegakkan khilafah dan imaroh.

Allah SWT berfirman:
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya? Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Q.S. al-Mulk [67]: 2)

Namun pada tahap implementasi, ternyata tidak cukup hanya beramal saja, karena memang Allah SWT akan menyeleksi setiap amal itu, mulai dari niatnya dan keikhlasannya. Tanpa ikhlas, amal seseorang akan sia-sia, tidak berguna dan tidak dipandang sedikitpun oleh Allah SWT.

Imam Al-Ghazali menuturkan, “Setiap manusia akan binasa, kecuali orang yang ikhlas (dalam amalnya). Namun orang yang ikhlas juga tetap harus waspada dan berhati-hati dalam beramal”. Dalam hal ini, hanya orang-orang yang ikhlas beramal yang akan mendapatkan keutamaan dan keberkahan yang sangat besar. Hal ini sebagaimana Firman Allah SWT berikut ini:
“Tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (bekerja dengan ikhlas). Mereka itu memperoleh rezki yang tertentu, yaitu buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan, di dalam syurga-syurga yang penuh kenikmatan.” (Q.S. ash-Shoffat [37]: 40-43)

Ayat tentang keutamaan dan jaminan bagi orang yang bekerja dengan ikhlas ini seharusnya menjadi motivasi utama kita dalam menjalankan tugas dan pekerjaan kita sehari-hari dalam apapun dimensi dan bentuknya, baik dalam konteks hablum-minallah maupun hablum-minannas. Karena hanya orang yang ikhlas (mukhlis) nantinya yang akan meraih keberuntungan yang besar dari Hari Kiamat, yaitu syurga Allah yang penuh dengan kenikmatan, meskipun dia harus banyak bersabar terlebih dahulu ketika di dunia.

Jaminan lain yang disediakan Allah SWT bagi mereka yang ikhlas dalam beramal bisa ditemukan dalam kisah perjalanan Yusuf as ketika Beliau berhadapan dengan seorang wanita yang mengajaknya melakukan kemaksiatan. Bahwa Allah SWT akan senantiasa memelihara hamba-Nya (yang mukhlis) dari perbuatan keji dan maksiat. Perhatikan Firman Allah SWT berikut:
“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang mukhlis.” (Q.S. Yusuf [12]: 24)

Dalam ayat lain, oarang yang mukhlis juga mendapatkan jaminan akan terhindar dari godaan dan bujuk rayu setan. Setan sendiri mengakui ketidak-berdayaan dan kelemahan mereka di hadapan orang-orang yang beramal dengan ikhlas. Sungguh benteng keikhlasan merupakan benteng yang paling kokoh yang tak tergoyahkan oleh apapun bentuk rayuan dan fitnah, terutama yang dilakukan oleh iblis dan sekutunya.

Perhatikanlah beberapa ayat berikut:
“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan, bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.” (Q.S. al-Hijr [15]: 39-40).
“Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (Q.S. Shad [38]: 82-83).

Dalam tinjauan ilmu Qira’at, para ulama Qira’at berbeda dalam membaca kata “Al-Mukhlashin” yang tersebut pada akhir kedua ayat tersebut. Sedangkan Qari’ membaca Al-Mukhlashin dengan isim maf’ul dan sebagainya lainnya membaca dengan isim fi’il Al-Mukhlishin. Imam Ibnu Katsir, Abu Amr dan Ibnu Amir, membaca seluruh kalimat ini dalam Al-Qur’an dengan bacaan “Al-Mukhlishin” yang artinya: “Mereka mampu memurnikan agama dan ibadah  mereka dari segala noda yang bertentangan dengan nilai tauhid”.

Sedangkan Ulama Qira’at yang lain membaca Al-Mukhlashin, artinya: “Mereka yang dipelihara dan mendapat taufik dari Allah SWT untuk memilikis sifat Ikhlas”. Berdasarkan Qira’at ini, ikhlas dan iman adalah mutlak anugerah Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki. Namun setiap hamba diperintahkan oleh Allah SWT untuk senantiasa memperhatikan dan meningkatkan kadar dan tingkat keikhlasannya dalam beramal. Bahkan Allah SWT menyuruh kita meneladani orang-orang yang mendapat petunjuk, karena tidak pernah mengharapkan balasan dari amalnya, kecuali dari Allah SWT.

Perhatikanlah Firman Allah SWT berikut:
“Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Q.S. Yasin [36]: 21)

Secara prinsip, Islam memandang keikhlasan sebagai fondasi dan ruh sebuah amal, apapun bentuknya amal tersebut selama termasuk kategori amal shalih. Baik amal tersebut dilakukan dalam skala pribadi maupun secara kolektif (bermasyarakat, berbangsa dan bernegara). Bahkan keikhlasan dalam ruang lingkup kolektif social ternyata sesuatu yang berat dan memerlukan lebih kesabaran.

Dalam konteks ini, keikhlasan harus dibangun secara timbal balik antara seluruh individu dalam masyarakat dan menghindari kecemburuan serta presepsi negative terhadap masing-masing anggota.

Dengan demikian, semakin luas wilayah kerja seseorang, maka semakin dibutuhkan keikhlasan. Apalagi di tengah semakin beragam hambatan atau ujian keikhlasan yang menghadangnya, yang pada umumnya adalah seperti yang dinyatakan oleh Syekh Hasan Al-Banna’ dalam Risalahnya, yaitu: harta, kedudukan, popularitas, gelar, ingin selalu tampil di depan dan diberi penghargaan dan pujian, dan sebagainya.

Jika keikhlasan dituntut dari setiap orang yang beramal, maka menurut Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, keikhlasan bagi seorang Da’I merupakan keniscayaan yang harus senantiasa menyertainya, karena ia akan berhadapan dengan berbagai keadaan dan beragam manusia dalam perjalanan dakwahnya. Jika tidak, maka binasa dan sia-sialah amalnya. Bahkan sifat yang mendasar bagi seorang Da’I yang harus senantiasa melaziminya adalah ikhlas.

Oleh karena itu, para Ulama hadits menjadikan “Bab Niat” berada di awal kitab hadits susunan mereka, agar karya tulis mereka selalu diawali dengan keikhlasan dan tidak luput dari sifat ini. Bisa dibayangkan para Ulama yang merupakan teladan dalam beramal mencontohkan kita agar senantiasa mengukur setiap amal yang kita lakukan dengan ukuran ikhlas.

Para Nabi Allah SWT dalam kapasita mereka sebagai Da’I senantiasa menjadikan keikhlasan sebagai jargon dan prinsip dakwah mereka. Sebagai contoh; Nabi Muhammad SAW sebagai ‘teladan umat’ dalam hal ini mengemukakan tentang motivasinya dalam berdakwah, sebagai berikut:

“Katakanlah: “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhannya”. (Q.S. al-Furqon [25]: 57)

Dengan redaksi yang sama dan dalam surah yang sama secara berdampingan, seluruh Nabi Allah menekankan prinsip keikhlasan dalam dakwah mereka yang ideal, mulai dari Nabi Nuh, Hud, Shalih, Luth dan Syu’aib as.

Perhatikanlah Firman Allah SWT dalm surat Asy-Syu’aro [surat ke-26] ayat 109, 127, 145, 164 dan 180. Secara umum, ayat-ayat tersebut berbunyi sebagai berikut: “Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.”

Inilah bangunan keikhlasan yang pernah di tunjukkan dan dicontohkan dalm dakwah para Nabi Allah SWT, sehingga mereka meraih kesuksesan dan diabadikan namanya oleh Allah SWT sebagai cerminan bagi para Da’i setelah mereka.

Menurut bahasa, dalam kata “ikhlas” terkandung beberapa makna, yaitu: jernih, bersih, suci dari campuran da pemcemaran, baik berupa materi maupun non-materi. Lawan dari ikhlas adalah nifak dan riya’. Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang tujuan utamanya meraih pahala Akhirat, niscaya Allah akan menjadikan kekayaannya dalam kalbunya, menghimpunkan baginya semua potensi yang dimilikinya, dan dunia akan dating sendiri kepadanya seraya mengejarnya. Sebaliknya, barangsiapa yang tujuan utamanya meraih dunia, niscaya Allah akan menjadikan kemiskinannya berada di depan matanya, membuyarkan semua potensi yang dimilikinya, dan dunia tidak akan dating sendiri kepadanya, kecuali menurut apa yang telah ditakdirkan untuknya.” (H.R. Tirmidzi)

Dalam keadaan apapun, keikhlasan akan tetap menjadi modal, bekal sekaligus kemudi amal shalih, apalagi dakwah sebagai puncak dari amal shalih. Karena semakin berat dan mulia sebuah tugas, tentu akan semakin dibutuhkan keikhlasan. Semakin dewasa perjalanan dan pengamalan dakwah seseorang, maka semestinya semakin baik tingkat dan kualitas keikhlasannya. Keikhlasan juga merupakan salah satu dari dua pilar dan syarat diterimanya amal shalih, bahkan ia yang paling utama, seperti yang dinyatakan oleh Abdullah bin Al-Mubarak ketika menafsirkan ayat: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya…” (Q.S. al-Mulk [67]: 2).

Tanpanya amal seseorang akan sia-sia, tidak bernilai. Untuk itu, dengan ikhlas, akan mencukupi amal yang sedikit seperti yang ditegaskan dalam riwayat Ad-Dailami: “Ikhlaslah kamu dalam beramal, maka cukuplah amal yang sedikit yang kamu lakukan”. (sew/islamnya_electric)

Sumber: Suara Masjid Nomor: 167/Tahun IV/9 Oktober 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s