Antara Niat, Ikhtiar dan Hasil

doa11

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Bunyi alarm dari ponsel telah memotong salah satu episode mimpiku.Pukul 3 dini hari..Meski terkadang begitu sulit melawan kantuk.Selalu kuusahakan untuk berkhalwat dengan kekasihku.Menitip doa untuk orang-orang terkasih, memohon pengampunan dosa, dan meminta banyak hal yang aku inginkan.Karena hanya Dia yang bisa mengabulkan.

Setelah aku matikan alarm, iseng-iseng aku buka messenger dari ponselku.Mungkin ada pesan offline dari teman-teman.Eh ada seorang teman yang online pagi-pagi buta begini.Kuucapakan salam, kemudian aku bilang tunggu aku dua rekaat dan akan kembali.

Setelah sekian menit bermunajat.Ku kembali menyapanya.Dia hanya seorang teman cyber yang telah aku kenal sejak tahun 2003.Namun baru kira-kira setengah tahun terakhir kami berhubungan kembali setelah 2 tahun lost contact.Dia seperti sebuah jendela yang menghubungkanku dengan dunia yang baru.Bidang broadcast yang digelutinya juga pengetahuannya tentang agama yang cukup luas dan dalam.Membuatku tak pernah bosan untuk ‘menggangunya’ dengan rasa ingin tahuku tentang ilmu yang dia kuasai, juga pemikiran-pemikirannya.

Ternyata dia sedang chat dengan temannya yang mengambil suaka di luar negeri.Sambil menunggu untuk memberikan siraman rohani subuh di stasiun radio miliknya di tanah rencong.Juga chat dengan seseorang yang dia anggap istimewa namun telah menjadi milik orang lain.Pembicaraan kami kemudian berkisar tentang orang istimewa tersebut.Aku menanyakan hikmah apa yang bisa dia petik dari ‘kehilangan orang istimewa’ itu?Dia menjawab sambil sedikit bergurau menyebutkan salah satu hadist yang menyangkut kehidupan masa lalunya yang sedikit kelam.Aku hibur dia dengan jawaban yang logis, bahwa mungkin dia juga akan mendapatkan seseorang seperti dirinya, yaitu memiliki masa lalu yang kelam namun telah bertransform ke jalan yang benar.

Dengan halus dia menolak pendapatku.Dia berkata, bahwa dia akan memperbaiki amalannya, akan lebih beryukur, dan memperbanyak ibadah, sehingga Allah akan berkenan mengabulkan keinginannya.

‘Apa kamu yakin kalau kamu melakukan semua itu, Allah akan kabulkan permohonanmu?’

‘Iya’

‘Bagaimana bila tetap tak dikabulkan, dan di mana peran takdir bila keyakinanmu sebulat itu?’

Dia tetap berpegang teguh dengan pendiriannya.Takdir baginya memang telah ditentukan namun dia mengharap belas kasihan Allah dengan melihat usaha maksimalnya.Bila niat dan ikhtiar sejalan maka hasilpun akan seperti yang diharapkan.Aku tersenyum dan hanya mendoakan semoga keinginannya terkabul.

Dulu pernah dia buktikan kata-katanya ini.Stasiun radionya pernah mengalami krisis, sehingga tidak bisa mengudara.Kendala finance itu dia ceritakan padaku, aku usulkan beberapa solusi.Dia jawab sudah coba namun tak ada hasil.Kami berdua sudah buntu tentang jalan keluar, hingga kemudian aku sarankan’Minta saja pada Allah yang Maha Kaya, dengan bahasa yang halus dan indah, tulus ikhlas, pasti dikabulkan’.

Tak kudengar kabarnya beberapa waktu.Hingga pada suatu hari dia menyapaku.Aku tanyakan ke mana saja, ponselpun tak bisa dihubungi.Ternyata miliknya yang bisa diuangkan telah dijual semua termasuk ponsel.Apapun akan dia lakukan, asal radionya yang 75 persen siaran Islam bisa mengudara kembali.Usahanya yang maksimal untuk survive, telah membuahkan hasil.Radionya bisa mengudara kembali setelah hampir seminggu vakum.

Alhamdulillah keadaannya terus membaik.Kesibukannya bertambah dan lancar saja.Meski kami telah jarang bersapa karena pekerjaannya yang menumpuk, tapi masih menanyakan kabar masing-masing.

Kurenungkan kata-katanya.Antara niat, ikhtiar dan hasil.Dalam keputusasaan, akan timbul keikhlasan, karena telah hilangnya kesombongan pada kemampuan sendiri dan hanya mengharap uluran tangan Allah.Ketika semua pintu tertutup dan hanya pintu Allah yang terbuka lebar.Tak ada jalan lain yang ditempuh selain jalanNya yang berupa ikhtiar dan do’a.Mungkin benar bila Allah akan mengabulkan, bukankah Allah Maha Pengasih, Penyayang, Pemurah.

Dalam kehidupan sehari-haripun telah banyak contoh yang nyata.Bila kita bercita-cita ingin menjadi dokter, yang merupakan sebuah niat.Kemudian belajar dengan sungguh-sungguh, wujud dari ikhtiar.Insya Allah gelar dokterpun akan kita raih, sebuah hasil yang kita inginkan.Kemungkinan yang akan terjadi pun akan bisa diprediksi bila salah satu unsur tersebut tidak terpenuhi.Misalnya kita bercita-cita ingin menjadi dokter, namun tak ada ikhtiar untuk belajar.Gelar dokter pun hanyalah impian belaka.

Takdir.Hidup, mati dan rejeki, memang hanyalah Allah semata yang tahu.Namun sebagai mahkluk yang diberi kelebihan akal oleh Allah, kita bisa memprediksi apa yang ingin kita raih, yang ingin kita dapatkan, dan di mana kita berada.Tanpa menyimpang dari ajaran dan petunjukNya.

Wallahu’alamu bishawab

Sumber: Eramuslim.Com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s