Bocah Amerika Mempelajari Islam Di Usia 6 Tahun, Lalu Mengikrarkannya Pada Usia 8 Tahun

Seorang bocah muslim Amerika mempelajari Islam di usia 6 tahun dan mengikrarkannya pada usia 8 tahun. Ibunya memberikan buku-buku semua agama kepada dirinya dan setelah membaca dengan seksama ia memutuskan menjadi seorang muslim sebelum bertemu dengan seorang muslim mana pun. Rosululloh bersabda :

“Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikan dirinya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (Mauttafaqun ‘alaih)

Kisah kita tiada lain pembenar bagi hadits ini. Alexander Furze lahir dari sepasang orang tua Kristen pada tahun 1990 M. Sejak semula sang ibu memutuskan membiarkannya memilih keyakinannya sendiri terlepas dari campur tangan keluarga atau masyarakat. Tidak lama setelah Alexander belajar membaca dan menulis, ibunya memberinya buku-buku berbagai agama samawi dan agama non samawi. Setelah membaca dengan cermat, Alexander memutuskan menjadi seorang muslim. Ia sangat mencintai agama ini sehingga ia belajar sholat, mengenal banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kosa kata bahasa Arab, menghafal beberapa surat, dan belajar adzan.

Semua ini ia lakukan sebelum bertemu dengan seorang muslim mana pun. Berkat bacaan-bacaannya, ia memutuskan memilih nama baru, yakni Muhammad ‘Abdulloh karena meniru nama Rosululloh yang dicintainya sejak masih kecil. Baca lebih lanjut

Iklan

Islam Adalah Akhir Pencarian Kebenaran

(Kisah Keislaman Dr. Louis Emilio Bolsoni)

Namaku Louis Emilio Bolsoni, lahir pada 18 Oktober 1966 M. Ayahku bernama Evo Bolsoni, seorang arsitek dan ibuku bernama Anna Redondo Bolsoni. Walaupun kedua orang tuaku tidak berkesempatan belajar di sekolah tinggi, namun ibuku senantiasa mencurahkan tenaga untuk memudahkan diriku, saudara perempuan dan laki-lakiku belajar di sekolah yang bagus. Tetapi kondisi di sini, di Brasil, tidaklah menggembirakan. Sekolah-sekolah umum tingkat dasar dan menengah tidak membekali orang yang masuk padanya untuk memasuki pendidikan tinggi.

Aku berkesempatan belajar di sekolah dasar dan menengah unggulan di kota kami. Nomorku adalah kedua dalam ujian masuk perguruan tinggi. Kuliahku di Jurusan Ilmu Kesehatan Gigi di Universitas Sao Paulo dimulai tahun 1985 M, dan aku menyelesaikan studi pada 17 Desember 1988 M. Ketika itu usiaku 22 tahun. Aku berusaha terus berada di universitas. Nilai indeks prestasiku layak untuk mendapatkan profesi akademik di universitas. Tapi problem ekonomi memaksaku mencari pekerjaan. Aku ikut seleksi calon pegawai, dan aku menempati urutan ke-7. Aku menerima profesiku sebagai dokter gigi di kota kami, Sao Bernardo, tertanggal 10 Oktober 1989 M, di mana aku masih bekerja disana sampai saat ini.

Adapun tentang hubunganku dengan agama Nasrani, karena aku terlahir dalam keluarga Kristen Katolik, kedua orang tuaku tekun mendidikku dalam agama Kristen. Sekolah dasar yang aku masuki merupakan sekolah Kristen dan aku bisa pergi ke gereja tiap hari Minggu, serta belajar dari beberapa aktivitas di kampung. Baca lebih lanjut

Kisah Sang Produser Film Holywood Yang Masuk Islam

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Weeks In Gramm mengatakan, “Kenapa aku masuk Islam? Kenapa pula aku menjadikan Islam sebagai agamaku? Hal itu karena aku yakin bahwa Islam adalah agama yang memberikan kedamaian dan ketenangan dalam jiwa, menginspirasi kepada manusia akan kesabaran dan ketentraman hati serta kenyamanan dalam hidup. Ruh Islam telah merasuk dalam jiwaku, sehingga merasakan nikmat iman terhadap ketetapan Alloh dan tidak mempedulikan efek-efek materialism berupa kelezatan dan rasa sakit.

Aku memberikan pernyataan ini bukan sekedar karena perasaan sesaat yang melintas dalam pikiranku. Bahkan sebaliknya, aku telah mempelajari agama Islam selama dua tahun dan akau tidak menjadikannya sebagai agama kecuali setelah melewati pengamatan hati yang begitu mendalam dan psiko analisa yang panjang. Aku tidak mengganti agamaku selain agar bisa mendapatkan ketenangan dari hiruk-pikuk kehidupan yang gila dan agar merasakan nikamat kenyamanan dalam naungan kedamaian dan perenungan. Jauh dari derita kesediahn dan nestapa yang disebabkan ketamakan dalam mencari keuntungan dan kerakusan terhadap materi yang telah menjadi ‘tuhan’ serta cita-cita manusia. Tatkala telah masuk Islam aku mampu melepaskan diri dari cengkeraman rayuan, tipuan kehidupan yang batil, minum-minuman, narkotika dan gila music jazz band. Ya, ketika masuk Islam berarti akau telah menyelamatkan pikiran, akal sehat dan kehidupanku dari kehancuran dan kebinasaan.

Saat itu, ada seorang lelaki Arab yang tinggi dan berwibawa berdiri di atas menara dan mengumandangkan adzan sholat untuk diambil gambarnya dalam kaset filmku. Manakal ia dalam keadaan seperti itu dan kru kamera tengah mengambil gambar pemandangan tersebut, sementara aku berdiri disini memperhatikan semuanya, tinggi rendah suaranya menembus relung hatiku. Baca lebih lanjut

Pendeta Dari Pulau Madagaskar (Afrika) Yang Menyatakan Keislamannya

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pendeta Masuk Islam ImageAku tumbuh dalam keluarga Nasrani yang memotivasi tiap anggotanya untuk selalu datang ke gereja. Di akhir tahun 80-an, aku diangkat oleh Dewan Pimpinan Gereja Pusat menjadi kepala gereja. Di awal perjalanan, tidak ada satu problem pun yang menghadangku dalam mengemban tugas dan kewajiban gereja. Namun seiring berjalannya waktu, banyak permasalahan yang muncul kepermukaan, khususnya problem materi.

Aku tidak memiliki pengetahuan yang benar tentang Islam. Khususnya karena orang-orang yang antusias memeluknya didominasi oleh mantan umat Nasrani sendiri, berdasarkan apa yang dikatakan kepada kami di sela-sela pertemuan-pertemuan untuk merumuskan langkah-langkah guna menghentikan inspasi agama Islam di kampong-kampung.

Sebagai contoh saja, ketika pembangunan Masjid Ambadika di Lukumbia selesai, berita tersebut sampai kepada kami layaknya petir karena adanya komunitas yang besar dari umat Protestan di desa tersebut. Terlebih lagi orang-orang yang memeluk Islam adalah anak-anak yang masih belia dan muda. Begitu juga setelah kepala desa (Tsirana Mahanor) menyatakan masuk agama Nasrani, kami berusaha menekan keluarga-keluarga agar melarang anak-anak mereka masuk Islam. Hanya saja kegagalan selalu menyertai kami dan kami tidak mampu berbuat apa-apa.

Rapat berturut-turut yang bertujuan menghentikan derasnya arus agama Islam memiliki pengaruh besar pada diriku yang membuatku mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengetahui alasan permusuhan terhadap Islam. Baca lebih lanjut

Riwayat Hidup Sang Penduduk Langit (Uwais al-Qarni)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.
Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan karenanya. Dia adalah “Uwais al-Qarni”.
Ia tak dikenal banyak orang dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya. Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata : “Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri”.
Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.