Rasulullah SAW Senantiasa Menghidupkan Malam Dengan Ibadah

“Hendaklah kalian rajin mengerjakan qiyamul lail, karena qiyamul lail itu pola hidup (kebiasaan) orang-orang shaleh sebelum kamu. Ia dapat mencegah (pelakunya) dari melakukan perbuatan dosa, dapat mendekatkan (pelakunya) kepada Allah, dapat menghapus segala macam keburukan, dan dapat mengusir penyakit dari tubuh.” (H.R. Al-Baihaqi)

            Rasulullah SAW adalah orang yang tidak pernah melewatkan detik-detik malam berlalu begitu saja, tanpa melakukan ibadah malam (qiyamul lail) di dalamnya. Beliau adalah contoh orang yang benar-benar telah menemukan keutamaan, hikmah, peranan, arti penting dan pahala qiyamul lail di sisi Allah. Oleh karena itu, beliau sangat bersungguh-sungguh dan istiqamah untuk senantiasa dapat mengerjakannya. Beliau sama sekali tidak pernah absen dalam mengerjakan qiyamul lail. Bahkan beliau kemudian menyeru umatnya untuk senantiasa mengerjakan qiyamul lail dan konsisten dalamnya, dengan membuang jauh-jauh rasa malas.

Diriwayatkan dari Mughirah bin Syu’bah, bahwa Rasulullah SAW senantiasa mengerjakan shalat malam sampai bengkak kedua kakinya. Suatu ketika, pernah ditanyakan kepada beliau, “Mengapa tuan menyusahkan diri sendiri dengan banyak mengerjakan shalat malam, sementara Allah telah mengampuni dosa-dosa tuan, baik dosa yang lalu maupun dosa yang akan datang?” Rasulullah SAW mnjawab, “Apakah aku tidak boleh hamba-Nya yang pandai bersyukur?” (H.R. Al-Bukhari). Dalam riwayat yang lain, Aisyah juga menceritakan, “Adalah Rasulullah jika shalat sampai kakinya bengkak”. Aisyah bertanya: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau meakukan sampai begitu rupa, bukankah dosamu yang lalu dan yang mendatang telah diampuni oleh Allah?” Rasulullah menjawab, “Wahai Aisyah, apakah tidak boleh aku menjadi hamba yang pandai beryukur?” (H.R. Muttafaq alaih).

a. Meskipun sakit, Rasulullah tetap beribadah malam.
Rasulullah SAW adalah orang yang membiasakan diri untuk bangun dan beribadah malam, sekalipun beliau dalam keadaan sakit. Padahal beliau sendiri tahu bahwa Allah telah menjanjikan kepadanya tentang telah diampuninya dosa-dosa beliau, baik yang telah lalu maupun yang akan datang. Semua itu tidak lain karena Rasulullah tahu betul tentang pentingnya ibadah malam (qiyamul lail) dan pahalanya yang besar di sisi-Nya. Lalu bagaimana dengan kita, yang sehat dan kuat, tetapi malas dan ogah-ogahan untuk mengerjakan qiyamul lail? Padahal kita mempunyai dosa yang setinggi gunung dan sedalam lautan!

Abdullah bin Abi Qais menceritakan Aisyah pernah menasihati dirinya, “Janganlah Anda meninggalkan qiyamul lail, karena Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkannya. Jika beliau sakit atau sedang dalam keadaan sangat capai, maka beliau shalat dengan duduk.” (H.R. Abu Dawud dan Ibnu Huzaimah) Baca lebih lanjut

Iklan

Hindarilah Penyakit Riya’ dan Gila Popularitas!

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sesungguhnya pembahasan tentang ikhlas adalah pembahasan yang sangat penting yang berkaitan dengan agama Islam yang hanif (lurus) ini, hal dikarenakan tauhid adalah inti dan poros dari agama dan Allah tidaklah menerima kecuali yang murni diserahkan untukNya sebagaimana firman Allah, “Hanyalah bagi Allah agama yang murni”. (QS. AZ-ZUMAR ayat 3)

“Dari Amirul mu’minin Umar bin Al-Khotthob rodiallahu’anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Sesungguhnya amalan-amalan itu berdasarkan niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan, maka barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya adalah kepada Allah dan RasulNya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena untuk menggapai dunia atau wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang hijrahi”. (HR. Al-Bukhari: 1).

Berkata Abdurrahman bin Mahdi, “Kalau seandainya aku menulis sebuah kitab yang terdiri atas bab-bab maka aku akan menjadikan hadits Umar bin Al-Khattab yaitu hadits Al A’maalu bin Niyyaat di setiap bab” (Jami’ul Ulum 1/8).

Imam Asy-Syafi’i berkata, “Hadits ini adalah sepertiga ilmu” (Jami’ul ‘Ulum 1/9).

Imam Ahmad berkata, “Pokok-pokok Islam ada tiga hadits, hadits Umar rodiallahu’anhu, ”Hanya saja amal-amal itu berdasarkan niatnya”, hadits ‘Aisyah rodiallahu’anha, Barangsiapa yang berbuat perkara-perkara yang baru dalam agama ini yang bukan dari agama maka ia tertolak” dan hadits Nu’man bin Basyir rodiallahu’anhu ”Yang halal jelas dan yang haram jelas”. (Jami’ul ‘Ulum 1/9).

Sesungguhnya pembahasan tentang ikhlas adalah pembahasan yang sangat penting yang berkaitan dengan agama Islam yang hanif (lurus) ini, hal dikarenakan tauhid adalah inti dan poros dari agama dan Allah tidaklah menerima kecuali yang murni diserahkan untukNya sebagaimana firman Allah, “Hanyalah bagi Allah agama yang murni”. (QS. Az-Zumar : 3).

Maka perkara apa saja yang merupakan perkara agama Allah jika hanya diserahkan kepada Allah maka Allah akan menerimanya, adapun jika diserahkan kepada Allah dan juga diserahkan kepada selain Allah (siapapun juga ia) maka Allah tidak akan menerimanya, karena Allah tidak menerima amalan yang diserikatkan, Dia hanyalah meneriman amalan agama yang kholis (murni) untukNya. Allah akan menolak dan mengembalikan amalan tersebut kepada pelakunya bahkan Allah memerintahkannya untuk mengambil pahala (ganjaran) amalannya tersebut kepada yang dia syarikatkan, hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, yang artinya:

Allah berfirman “Aku adalah yang paling tidak butuh kepada syarikat, maka barangsiapa yang beramal suatu amalan untuku lantas ia mensyerikatkan amalannya tersebut (juga) kepada selainku maka Aku berlepas diri darinya dan ia untuk yang dia syarikatkan” (HR. Ibnu Majah 2/1405 no. 4202, dan ia adalah hadits yang shahih, sebagaimana perkataan Syaikh Abdul Malik Ar-Romadhoni, adapun lafal Imam Muslim (4/2289 no 2985) adalah, “aku tinggalkan dia dan ksyirikannya”). Baca lebih lanjut

Final Result Blog Competition 2012

Alhamdulillah setelah hampir 2 minggu membuat Blog ini tepatnya 12 hari, kami pihak Electric Class (yang berasal dari kelas XI IPA 3) bekerja keras membuat dan mengisi Blog Islam ini dengan berbagai macam konten dakwah. Akhirnya hari ini 16 Februari 2012 tadi pukul 1 siang di SMA N 1 PATI, kami berhasil meraih peringkat ke-2 dalam lomba Blog Competition Upgrading Iman Rohis Al-Izzah Smansapati 2012 dalam acara memeriahkan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Berikut hasil penilaian Para Dewan Juri untuk para peserta Blog:

Terima kasih buat teman-teman yang telah mendukung Blog kami, walau hanya menjadi Runner Up, kami sangat bangga dan bahagia atas prestasi kami ini. Terima kasih semua… Alhamdulillah… 😀

Memperluas Silaturohmi

Sekarang ini, kesuksesan seseorang tidak hanya ditunjang oleh kedalaman ilmu, ketersediaan modal, dan pengaruh sosial yang luas. Namun jika ditunjang oleh kemampuan mengembangkan dan memperluas jaringan kerja dalam sebuah level dan aspeknya.

Saat ini dibutuhkan jaringan kerja yang kuat, sistematis, dan satu kesatuan. Satu dengan yang lain tidak dapat dipisahkan karena saling melengkapi. Mudah bergaul, kecerdasan memilih teman potensial, dan kemampuan memanfaatkan relasi untuk mencapai tujuan, sangat menentukan kesuksesan seseoarang. Karenanya, Islam selalu menekankan silaturohmi sebagai media tukar informasi, membentuk jaringan, membangun lobi dan komunikasi, merajut kerjasama, serta menghindari ketegangan atau konflik. Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya :

Barang siapa ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sebaiknya ia menyambung tali silaturohmi.” (HR. Bukhari)

Tidak masuk surga orang yang memutus, yakmi memutus kekerabatan ( silaturohmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang sangat rajin membangun komunikasi, menciptakan hubungan, dan memperkuat posisi dengan silaturohmi. Beliau serin turun ke lapangan untuk memperhatikan persahabatan, memantapkan aqidah dan syariatnya, mencari sosok sahabat yang potensial dalam agenda dakwah, dan memberikan pelatihan secara bertahap dan terus-menerus. Baca lebih lanjut

Menegakkan Jihad Bersama Al-Qur’an

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Allah tidak membiarkan orang-orang Islam dihancurkan oleh orang-orang kafir. Oleh sebab itu, Allah menyuruh mereka untuk berjuang mengangkat senjata demi mempertahankan kebenaran Islam di muka bumi. Ini adalah perjalanan berharga dari Allah bahwa usaha kerja sangat berpengaruh terhadap kebesaran Islam. Jangan sampai Islam diremehkan dan dilecehkan oleh orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Islam harus ditegakkan harga diri dan kehormatannya. Banyak sekali ayat Al-Qur’an yang menjelaskan hal ini.

“Hai orang yang berkumpul (berselimut). Bangunlah lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah.” (QS. Al-Muddatsir: 1-5)

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan. Rabb mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridhaan dan surge, mereka memperoleh di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Taubah: 20-22) Baca lebih lanjut