Jangan Ikut-Ikutan Valentine Day (Remaja Muslim Dilarang MUI)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

oleh: Zainal Arifin, S. Pd

APOLOGI kaum Orientalis-Nashrani ternyata belum mampu menjelaskan kebenaran asal-usul Valentine’s Day. Simpang-siurnya versi tentang sejarah Valentine’s Day membuktikan tidak logisnya memperingati dan merayakan rasa “Kasih Sayang” hanya setiap 14 Februari tiap tahunnya.

Dan sebagai umat Islam yang memiliki peradaban mulia, kita seyogyanya memakai kacamata iman untuk filterisasi kebudayaan kafir dan tidak sekedar ikut-ikutan apalagi dalam urusan keimanan.

Dalam al-Qur’an surat al-Israa’ [17] ayat 36, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”

Selain tanggung jawab di akhirat kelak, manusia yang mengikuti ajaran dari golongan kafir yang sesat, sedangkan mereka telah mengetahui ilmu dan hukumnya, maka itulah golongan manusia yang zalim. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Baqarah [2] ayat 145 yang artinya:“…Dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, Sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim.”

Dua firman Allah tersebut secara jelas melarang umat Islam mengikuti budaya orang kafir seperti Valentine’s Day. Terlebih-lebih peringatan tegas dari Rasulullah dalam haditsnya, “Tidak termasuk golonganku orang-orang yang menyerupai selain golongan ummatku (ummat Islam).” (Riwayat Tirmidzi).

Perkembangan umat Islam hingga detik ini belum diimbangi penerapan syari’at Islam secara kaffah, sehingga masih banyak generasi Islam di muka bumi ini yang terjebak dalam tradisi Valentine’s Day.Lihatlah papan reklame, iklan-iklan di media elektronik, poster-poster di jalanan, dekorasi di tempat-tempat perbelanjaan dan media masa yang bertebaran dewasa ini ketika mendekati 14 Februari, banyak diantaranya berisi pernak-pernik yang bernuansa pink dan menawarkan aksesoris Valentine’s Day.

Sungguh berbahayanya tradisi Valentine’s Day yang telah merasuki pikiran generasi umat manusia. Tradisi orang-orang kafir yang telah didesain untuk membujuk rayu generasi umat Islam masuk ke dalam “lubang biawak”. Rasulullah bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian selangkah demi selangkah, hingga kalian masuk lubang biawak (dhabb) sekalipun kalian akan ikut memasukinya”. Para sahabat bertanya, “Maksudnya Yahudi dan Nasrani? Jawab Rasulullah, “Lalu siapa lagi.” (Riwayat Bukhari dan Muslim). Baca lebih lanjut

Islam Adalah Akhir Pencarian Kebenaran

(Kisah Keislaman Dr. Louis Emilio Bolsoni)

Namaku Louis Emilio Bolsoni, lahir pada 18 Oktober 1966 M. Ayahku bernama Evo Bolsoni, seorang arsitek dan ibuku bernama Anna Redondo Bolsoni. Walaupun kedua orang tuaku tidak berkesempatan belajar di sekolah tinggi, namun ibuku senantiasa mencurahkan tenaga untuk memudahkan diriku, saudara perempuan dan laki-lakiku belajar di sekolah yang bagus. Tetapi kondisi di sini, di Brasil, tidaklah menggembirakan. Sekolah-sekolah umum tingkat dasar dan menengah tidak membekali orang yang masuk padanya untuk memasuki pendidikan tinggi.

Aku berkesempatan belajar di sekolah dasar dan menengah unggulan di kota kami. Nomorku adalah kedua dalam ujian masuk perguruan tinggi. Kuliahku di Jurusan Ilmu Kesehatan Gigi di Universitas Sao Paulo dimulai tahun 1985 M, dan aku menyelesaikan studi pada 17 Desember 1988 M. Ketika itu usiaku 22 tahun. Aku berusaha terus berada di universitas. Nilai indeks prestasiku layak untuk mendapatkan profesi akademik di universitas. Tapi problem ekonomi memaksaku mencari pekerjaan. Aku ikut seleksi calon pegawai, dan aku menempati urutan ke-7. Aku menerima profesiku sebagai dokter gigi di kota kami, Sao Bernardo, tertanggal 10 Oktober 1989 M, di mana aku masih bekerja disana sampai saat ini.

Adapun tentang hubunganku dengan agama Nasrani, karena aku terlahir dalam keluarga Kristen Katolik, kedua orang tuaku tekun mendidikku dalam agama Kristen. Sekolah dasar yang aku masuki merupakan sekolah Kristen dan aku bisa pergi ke gereja tiap hari Minggu, serta belajar dari beberapa aktivitas di kampung. Baca lebih lanjut

Rasulullah SAW Senantiasa Menghidupkan Malam Dengan Ibadah

“Hendaklah kalian rajin mengerjakan qiyamul lail, karena qiyamul lail itu pola hidup (kebiasaan) orang-orang shaleh sebelum kamu. Ia dapat mencegah (pelakunya) dari melakukan perbuatan dosa, dapat mendekatkan (pelakunya) kepada Allah, dapat menghapus segala macam keburukan, dan dapat mengusir penyakit dari tubuh.” (H.R. Al-Baihaqi)

            Rasulullah SAW adalah orang yang tidak pernah melewatkan detik-detik malam berlalu begitu saja, tanpa melakukan ibadah malam (qiyamul lail) di dalamnya. Beliau adalah contoh orang yang benar-benar telah menemukan keutamaan, hikmah, peranan, arti penting dan pahala qiyamul lail di sisi Allah. Oleh karena itu, beliau sangat bersungguh-sungguh dan istiqamah untuk senantiasa dapat mengerjakannya. Beliau sama sekali tidak pernah absen dalam mengerjakan qiyamul lail. Bahkan beliau kemudian menyeru umatnya untuk senantiasa mengerjakan qiyamul lail dan konsisten dalamnya, dengan membuang jauh-jauh rasa malas.

Diriwayatkan dari Mughirah bin Syu’bah, bahwa Rasulullah SAW senantiasa mengerjakan shalat malam sampai bengkak kedua kakinya. Suatu ketika, pernah ditanyakan kepada beliau, “Mengapa tuan menyusahkan diri sendiri dengan banyak mengerjakan shalat malam, sementara Allah telah mengampuni dosa-dosa tuan, baik dosa yang lalu maupun dosa yang akan datang?” Rasulullah SAW mnjawab, “Apakah aku tidak boleh hamba-Nya yang pandai bersyukur?” (H.R. Al-Bukhari). Dalam riwayat yang lain, Aisyah juga menceritakan, “Adalah Rasulullah jika shalat sampai kakinya bengkak”. Aisyah bertanya: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau meakukan sampai begitu rupa, bukankah dosamu yang lalu dan yang mendatang telah diampuni oleh Allah?” Rasulullah menjawab, “Wahai Aisyah, apakah tidak boleh aku menjadi hamba yang pandai beryukur?” (H.R. Muttafaq alaih).

a. Meskipun sakit, Rasulullah tetap beribadah malam.
Rasulullah SAW adalah orang yang membiasakan diri untuk bangun dan beribadah malam, sekalipun beliau dalam keadaan sakit. Padahal beliau sendiri tahu bahwa Allah telah menjanjikan kepadanya tentang telah diampuninya dosa-dosa beliau, baik yang telah lalu maupun yang akan datang. Semua itu tidak lain karena Rasulullah tahu betul tentang pentingnya ibadah malam (qiyamul lail) dan pahalanya yang besar di sisi-Nya. Lalu bagaimana dengan kita, yang sehat dan kuat, tetapi malas dan ogah-ogahan untuk mengerjakan qiyamul lail? Padahal kita mempunyai dosa yang setinggi gunung dan sedalam lautan!

Abdullah bin Abi Qais menceritakan Aisyah pernah menasihati dirinya, “Janganlah Anda meninggalkan qiyamul lail, karena Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkannya. Jika beliau sakit atau sedang dalam keadaan sangat capai, maka beliau shalat dengan duduk.” (H.R. Abu Dawud dan Ibnu Huzaimah) Baca lebih lanjut

Fiqih Islam Menurut Al-Qur’an dan Al-Hadits

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

PENGERTIAN FIQIH
Fiqih menurut bahasa berarti paham, seperti dalam firman Allah :
“Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?” (QS.An Nisa :78)

dan sabda Rasulullah :
“Sesungguhnya panjangnya shalat dan pendeknya khutbah seseorang, merupakan tanda akan kepahamannya” (Muslim no.1437, Ahmad no.17598, Daarimi no.1511)

Fiqih Secara istilah mengandung dua arti:

1. Pengetahuan tentang hukum-hukum syari’at yang berkaitan dengan perbuatan dan perkataan mukallaf (mereka yang sudah terbebani menjalankan syari’at agama), yang diambil dari dalil-dalilnya yang bersifat terperinci, berupa nash-nash al Qur’an dan As sunnah serta yang bercabang darinya yang berupa ijma’ dan ijtihad.

2. Hukum-hukum syari’at itu sendiri
Jadi perbedaan antara kedua definisi tersebut bahwa yang pertama di gunakan untuk mengetahui hukum-hukum (Seperti seseorang ingin mengetahui apakah suatu perbuatan itu wajib atau sunnah, haram atau makruh, ataukah mubah, ditinjau dari dalil-dalil yang ada), sedangkan yang kedua adalah untuk hukum-hukum syari’at itu sendiri (Yaitu hukum apa saja yang terkandung dalam shalat, zakat, puasa, haji, dan lainnya berupa syarat-syarat, rukun –rukun, kewajiban-kewajiban, atau sunnah-sunnahnya).

HUBUNGAN ANTARA FIQIH DAN AQIDAH ISLAM
Diantara keistimewaan fiqih Islam –yang kita katakan sebagai hukum-hukum syari’at yang mengatur perbuatan dan perkataan mukallaf – memiliki keterikatan yang kuat dengan keimanan terhadap Allah dan rukun-rukun aqidah Islam yang lain. Terutama Aqidah yang berkaitan dengan iman dengan hari akhir.
Yang demikian Itu dikarenakan keimanan kepada Allah-lah yang dapat menjadikan seorang muslim berpegang teguh dengan hukum-hukum agama, dan terkendali untuk menerapkannya sebagai bentuk ketaatan dan kerelaan. Sedangkan orang yang tidak beriman kepada Allah tidak merasa terikat dengan shalat maupun puasa dan tidak memperhatikan apakah perbuatannya termasuk yang halal atau haram. Maka berpegang teguh dengan hukum-hukum syari’at tidak lain merupakan bagian dari keimanan terhadap Dzat yang menurunkan dan mensyari’atkannya terhadap para hambaNya. Baca lebih lanjut

Detik-Detik Akhir Hayat Rasulullah Muhammad SAW

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاءِ شَهِيدًا

Artinya: Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). (QS. An-Nisaa'[4] ayat 41)

Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning,burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.

Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur’an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku.”

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. Baca lebih lanjut