Umat Islam Harus Sadar dan Lihai Berpolitik

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Politik adalah aspek yang tak mungkin dipisahkan dari ajaran Islam. Pada titik inilah Islam dan sekularisme berseteru. Sebab, sekularisme justru hendak memisahkan agama dari urusan-urusan politik.
Hal ini menunjukkan bahwa umat Muslim harus belajar berpolitik sehingga tidak mudah ‘dikerjai’ oleh lawan-lawan politiknya. Demikianlah yang disampaikan oleh Tiar Anwar Bachtiar dalam Diskusi Dwipekanan yang digelar oleh Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) pada hari Sabtu, 25 Januari 2014.
Sejak awal, para ulama tanah air tidak mempermasalahkan perjuangan dakwah melalui jalur politik. Hal ini terbukti dengan lahirnya gerakan Syarikat Islam (SI). “Sebelum kemerdekaan Indonesia, SI sudah eksis duluan. Formatnya adalah partai politik, dan yang dibicarakan bukan lagi kepentingan masing-masing daerah, melainkan nasional. Keberadaan SI ini mendapat dukungan dari seluruh kelompok Islam pada masa itu,” ungkap Tiar.
Pada perkembangannya, pergerakan umat Muslim senantiasa dikhianati oleh kaum sekuler. Hal ini harus dijadikan sebagai bahan evaluasi, karena hal ini menunjukkan bahwa umat Muslim belum pandai berpolitik. Piagam Jakarta dan Pancasila adalah dua contoh yang dikemukakan oleh Tiar. Baca lebih lanjut
Iklan

Mari Membaca Al-Qur’an dengan Software Ayat

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Membaca Al Qur’an merupakan salah satu ciri khas dari Umat Islam yang Beriman. Kita sebagai Umat Islam bukan saja harus bisa membaca tapi harus mengerti arti dari tiap ayat yang kita baca dan mengambil makna di dalamnya sebagai petunjuk kehidupan. Al-Qur’an merupakan Kitab Suci Agama Islam yang berisi semua pengetahuan yang ada di dalam Jagad Raya ini. Maka dari itu, walaupun kita sibuk sehari-harinya, bacalah Al-Qur’an walau hanya satu Ayat.

Software Ayat ini adalah software yang membantu anda tetap terkoneksi dengan Al-Qur’anul Karim walau anda berkutat dengan Komputer PC/Laptop. Dengan tampilan yang modern dan dilengkapi terjemahan dalam berbagai Bahasa, yaitu: Indonesia, Turki, Arab, Bosanski, Spanyol, Portugis, Inggris, Malaysia, Italia, Belanda, dan Perancis ini software ini sangatlah berguna bagi anda dalam memahami setiap ayat Al-Qur’an.

Berikut sekilas tentang Profil Resmi Software ini:

Program Ayat adalah situs Al Qur’an, King Saud University, yang bertujuan untuk menyediakan semua fitur untuk computer pribadi tanpa perlu koneksi ke Internet.

Dalam rangka untuk dapat menggunakan program tanpa koneksi internet Anda harus terlebih dahulu men-download konten yang diminta (file audio bacaan – tafsir dan file terjemahan – file gambar untuk halaman dari Al Quran) pada komputer Anda dan ini dilakukan melalui tiga cara: Baca lebih lanjut

Perspektif Eko-Teologis Banjir

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mutohharun Jinan
(Kandidat Doktor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta)

 IMG_20140124_164646

“Maka mereka mendustakan Nuh as, kemudian kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera. Dan kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata-hatinya).”
(Q.S. al-A’raf [7]: 64)

Mungkin negeri kita tercinta Indonesia ini layak disebut sebagai “Negeri Seribu Bencana”. Negeri yang memiliki dua musim, kemarau dan hujan, selalu beriringan dengan dua jenis bencana. Bila musim kemarau menghampiri, maka bencana kebakaran, kekeringan, dan kelaparan segera tersiar. Sebaliknya, bilamusim hujan tiba, berita yang beredar adalah bencana banjir, tanah longsor, ribuan penduduk mengungsi, penyakit, ratusan hektar sawah tergenang air, ribuan rumah rusak dan berita-berita duka lainnya.

Persoalannya adalah mengapa banjir selalu menghampiri kita pada setiap musim hujan tiba? Bukankah banjir merupakan peristiwa alam yang dapat dipikirkan dan ditanggulangi sebelumnya? Seberapa efektifkah upaya preventif untuk menanggulangi banjir? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini ternyata cukup beragam.

Bagi orang yang memahami ilmu lingkungan (Ekologi) akan mengatakan, bahwa banjir adalah peristiwa yang dapat diprediksi. Bagi orang yang mempercayai mitos, banjir merupakan kemarahan roh leluhur, karena kita tidak lagi melakukan ruwatan dan mempersembahkan sesaji untuk mereka. Sedangkan kelompok penganut agama mengatakan, bahwa banjir merupakan “kemurkaan dan kutukan Tuhan” yang ditimpakan kepada manusia. Ini pandangan teologis yang paling poluler di kalangan umat beragama. Baca lebih lanjut