Umat Islam Harus Sadar dan Lihai Berpolitik

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Politik adalah aspek yang tak mungkin dipisahkan dari ajaran Islam. Pada titik inilah Islam dan sekularisme berseteru. Sebab, sekularisme justru hendak memisahkan agama dari urusan-urusan politik.
Hal ini menunjukkan bahwa umat Muslim harus belajar berpolitik sehingga tidak mudah ‘dikerjai’ oleh lawan-lawan politiknya. Demikianlah yang disampaikan oleh Tiar Anwar Bachtiar dalam Diskusi Dwipekanan yang digelar oleh Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) pada hari Sabtu, 25 Januari 2014.
Sejak awal, para ulama tanah air tidak mempermasalahkan perjuangan dakwah melalui jalur politik. Hal ini terbukti dengan lahirnya gerakan Syarikat Islam (SI). “Sebelum kemerdekaan Indonesia, SI sudah eksis duluan. Formatnya adalah partai politik, dan yang dibicarakan bukan lagi kepentingan masing-masing daerah, melainkan nasional. Keberadaan SI ini mendapat dukungan dari seluruh kelompok Islam pada masa itu,” ungkap Tiar.
Pada perkembangannya, pergerakan umat Muslim senantiasa dikhianati oleh kaum sekuler. Hal ini harus dijadikan sebagai bahan evaluasi, karena hal ini menunjukkan bahwa umat Muslim belum pandai berpolitik. Piagam Jakarta dan Pancasila adalah dua contoh yang dikemukakan oleh Tiar. Baca lebih lanjut
Iklan

Turkistan Timur (Negeri Islam Yang Tinggal Kenangan)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

KATA PENGANTAR



Banyak orang tak mengenal negeri Turkistan. Tetapi bagi umat Islam, tak kenal dengan salah satu negeri Islam yang kemasyhurannya hampir menyamai Andalusia, sangatlah aib. Bukankah nama-nama ilmuwan kita berasal dari sana? Al-Bukhari, Al-Biruni, Al-Farabi, Abu Ali Ibnu Sina, dan sejumlah tokoh lainnya yang sampai kini merupakan tokoh-tokoh paling tak terlupakan umat Islam, berasal dari negeri tersebut.

Turkistan terletak di Asia Tengah dengan penduduk mayoritas keturunan Turki, merupakan salah satu benteng kebudayaan dan peradaban Islam. Pada abad ke-16 sampai abad ke-18, bangsa Cina dan Rusia mulai mengerlingkan nafsu angkaranya ke Turkistan dan mulai berfikir tentang kemungkinan untuk melakukan ekspansi teritorial. Cina mulai bergerak menaklukkan Turkistan Timur dan kemudian merubah namanya menjadi Sinkiang, sementara Turkistan Barat telah lebih dahulu dicaplok Rusia. Dengan berbagai alasan politik, Soviet menghapuskan nama Turkistan dari peta dunia dan memancangkan nama Republik Soviet Uzbekistan, Republik Soviet Turkmenistan, Republik Soviet Tadzhikistan, Republik Soviet Kazakestan, dan Republik Soviet Kirgistan.


Atas aksi ekspansionis tersebut, Turkistan negeri Islam tersebut kini benar-benar telah raib (musnah) dari peta dunia. Penjajah Rusia dan Cina telah memecah-belahnya menjadi negara-negara boneka yang kini termasuk bagian dari Republik Sosialis Unisoviet dan Republik Rakyat Cina, dua komunis terbesar di dunia.
Baca lebih lanjut

Masjid Patimburak, Saksi Bisu Sejarah Islam di Tanah Papua Abad 19

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

Sejarahnya

masyarakat setempat mengenal masjid ini sebagai masjid tua patimburak. Menurut catatan sejarah, masjid ini telah berdiri lebih dari 200 tahun yang lalu, bahkan merupakan masjid tertua di kabupaten fakfak. Bangunan yang masih berdiri kokoh dan berfungsi hingga saat ini dibangun pada tahun 1870, seorang imam bernama abuhari kilian.pada masa penjajahan, masjid ini bahkan pernah diterjang bom tentara jepang. Hingga kini, kejadian tersebut menyisakan lubang bekas peluru di pilar masjid. Menurut musa heremba, penyebaran islam di kokas tak lepas dari pengaruh kekuasaan sultan tidore di wilayah papua. Pada abad xv, kesultanan tidore mulai mengenal islam. Sultan ciliaci adalah sultan pertama yang memeluk agama islam. Sejak itulah sedikit demi sedikit agama islam mulai berkembang di daerah kekuasaan kesultanan tidore termasuk kokas.
Baca lebih lanjut

Kumpulan Tempat Wisata Bersejarah Islam di Indonesia

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Apa kabar sobat Muslim di Indonesia? Kita ketemu lagi dengan review tempat-tempat wisata indah dan menarik di Indonesia. Dalam artikel kali ini, kita akan membahas daftar tempat wisata peninggalan sejarah budaya yang bercorak agama Islam di Indonesia. Nusantara adalah negeri yang kaya keragaman budaya. Agama Islam hanyalah satu diantara beberapa agama yang tumbuh dan berkembang di Indonesia. Sejak lama Islam memberi pengaruh dalam berbagai segi kehidupan masyarakat Indonesia.

Masuknya agama dan kebudayaan Islam di Indonesia membawa pengaruh, baik terhadap bentuk nilai, norma, adat istiadat maupun dalam bentuk hasil-hasil kebudayaan. Peninggalan-peninggalan sejarah bercorak Islam di Indonesi dapat kita lihat dalam berbagai bentuk. Bentuk peninggalan sejarah Islam antara lain tampak dalam seni bangunan, seni aksara dan seni rupa, seni sastra, serta tradisi dan upacara. Semuanya bisa kita saksikan di tempat-tempat wisata daerah setempat.

Secara umum, tempat wisata di Indonesia yang mendapat pengaruh agama Islam dibagi menjadi tiga, yaitu, masjid, keraton, serta nisan dan makam . Tiga jenis daya tarik wisata tersebut berhasil menyedot minat wisatawan, baik wisata religi agama Islam maupun wisata pendidikan. Oke, langsungs saja. Berikut ini daftar tempat wisata agama Islam di Indonesia.

Tempat wisata di semarang dan sekitarnya - Masjid demak

Tempat wisata di semarang dan sekitarnya – Masjid demak

Baca lebih lanjut

Perkembangan Islam Yang Semakin Kedepan

Perkembangan Islam Masa Modern
(1800 – Sekarang)

Selayang Pandang Perkembangan Islam Masa Modern

Benturan-benturan antara Islam dengan kekuatan Eropa menyadarkan umat Islam bahwa jauh tertinggal dengan Eropa dan yang merasakan pertama persoalan ini adalah kerajaan Turki Usmani yang langsung menghadapi kekuatan Eropa yang pertama kali. Kesadaran tersebut membuat penguasa dan pejuang-pejuang Turki tergugah untuk belajar dari Eropa.

Guna pemulihan kembali kekuatan Islam, maka mengadakan suatu gerakan pembaharuan dengan mengevaluasi yang menjadi penyebab mundurnya Islam dan mencari ide-ide pembaharuan dan ilmu pengetahuan dari barat. Gerakan pembaharuan tersebut antara lain

  1. Gerakan Wahhabiyah yang diprakarsai oleh Muhammad ibn Abdul Wahhab (1703-1787 M) di Arabia, Syah Waliyullah (1703-1762) M di India dan Gerakan Sanusiyyah di Afrika Utara yang dikomandoi oleh Said Muhammad Sanusi dari Al Jazair
  1. Gerakan penerjemahan karya-karya Barat kedalam bahasa Islam dan pengiriman para pelajar muslim untuk belajar ke Eropa dan Inggris

Dalam gerakan pembaharuan sangat lekat dengan politik. Ide politik yang pertama muncul yaitu Pan Islamisme atau persatuan Islam sedunia yang digencarkan oleh gerakan Wahhabiyah dan Sanusiyah, setelah itu diteruskan dengan lebih gencar oleh tokoh pemikir Islam yang bernama Jamaluddin Al Afghani (1839-1897). Baca lebih lanjut