NEGERI 5 MENARA, Sebuah Film Inspiratif dari Novel Best Seller

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Penulis: Ahmad Fuadi
Ilustrator: Doddy R. Nasution
Sutradara: Affandi Abdul Rachman
Seniman Sampul: Slamet Mangindaan
Negara: Indonesia
Bahasa: Bahasa Indonesia, Bahasa Melayu
Genre: Edukasi, Religi, Roman

Sinopsis:

Cerita ini bermula ketika suatu kegundahan yang dialami oleh Alif, bocah dari pinggiran danau maninjau, Sumatera Barat, suatu kampung yang disanalah lahir ulama terkenal, Buya Hamka namanya. Alif bercita-cita ingin menjadi seorang “Habibie” , ahli teknologi yang pernah mengeyam pendidikan di ITB Bandung. Alif sangat ingin merasakan kuliah di ITB, salah satu jalannya adalah masuk ke sekolah umum. Namun, Ibunya menginginkan dia agar menjadi ulama seperti Buya Hamka, maka Ibunya berkehendak agar Alif masuk madrasah. Suatu pergolakan di dalam diri Alif muncul, di satu sisi Alif tidak ingin mengecewakan Ibunya, di satu sisi dia ingin meraih mimpi-mimpinya masuk di ITB. Tiba-tiba Alif mendapatkan pencerahan, dia memutuskan untuk mondok di suatu pesantren di Jawa Timur.

Kisah ini berawal dari Minang sekitar danau Maninjau yang mengisahkan tantang perjalanan hidup seorang anak laki-laki bernama Alif, yang bersekolah di madrasah tsanawiyah. Ia lulus dengan nilai ujian sepuluh terbaik di Kabupaten Agam. Alif dan Randi mempunyai keinginan melanjutkan sekolahnya di SMA.

Awal mulanya dia sangatkaget dengan segala peraturan ketat dan kegiatan pondok. Untunglah, dia menemukan sahabat-sahabat dari berbagai daerah yang benar² menyenangkan. Niatan setengah hatinya kini telah menjadi bulat. Di bawah menara PM inilah mereka berlima justru menciptakan mimpi²i lewat imajinasinya menatapi langit dan merangkai awan-awan menjadi negeri impian. Mereka yakin kelak impian itu akan terwujud. Karena mereka yakin akan mantra ampuh yang mereka dapatkan dari Kyai Rais (Guru Besar PM), yaitu man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Baca lebih lanjut

Masjid Kubah Emas, Simbol Kemegahan di Bulan Suci Ramadhan


Di bulan suci Ramadhan ini banyak sekali orang yang mencari berkah dan sekaligus berwisata di bulan Ramadhan dengan melakukan wisata religi. Kali ini saya akan bercerita tentang perjalanan wisata religi narasumber (AlvaClipton) di Masjid Kubah Emas yang menjadi simbol masjid termegah di Indonesia bahkan di kawasan Asia Tenggara.

Berikut liputan langsung oleh narasumber “AlvaClipton“:

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

Kemarin sore tanggal 22 Juli 2012 tepat dihari kedua puasa, saya dengan teman kuliah saya yang bernama Tartia mengunjungi Masjid Kubah Emas yang terletak di Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Kota Depok untuk sekedar ngabuburit mengisi waktu luang sebelum buka puasa. Berhubung jarak Masjid Kubah Emas atau yang dikenal juga dengan sebutan Masjid Dian Al Mahri dengan rumah kami sangat dekat hanya bisa diakses dengan sekali naik angkot 102 warna biru jurusan Parung Bingung – Pondok labu. Dari Pertigaan Parung Bingung ke Masjid Kubah Emas cukup membayar ongkos angkot sebesar Rp 2000 / orang kami akhirnya sampai di depan gerbang utama Masjid Kubah Emas yang memiliki luas seperti yang saya kutip dari wikipedia luas kawasan 50 hektar, bangunan masjid ini menempati luas area sebesar 60 x 120 meter atau sekitar 8000 meter persegi.

Masjid Kubah Emas Pada Sore Hari:

Intimasi dengan Tuhan di Baiturrahman

Pada akhir tahun 2004, gelombang tsunami meluluhlantahkan bumi Aceh. Hampir tak ada yang tersisa. Ratusan ribu jiwa menjadi korban. Sebuah bencana terdahsyat selama republik ini berdiri. Kehidupan yang tentram dalam damai langung menghilang dalam sekejap mata.


Diorama Masjid Baiturrahman saat diterjang Tsunami di Museum Tsunami Aceh
Melihat tragedi bencana tersebut, saya justru merasa terpanggil untuk suatu saat sampai ke sana.
Bukan untuk sekedar berkunjung, tapi lebih kepada merasakan kehidupan religius di Aceh paska tsunami. Meski bayangan bencana mengerikan tak mungkin hilang dari ingatan, Aceh sudah banyak berbenah dalam kedamaian.

Boleh dibilang, sudah sejak lama saya memimpikan untuk menginjakkan kaki di Bumi Serambi Mekah. Keinginan tersebut semakin kuat kala teringat sebuah keajaiban Tuhan dengan masih tegap berdirinya masjid kebanggaan masyarakat Aceh, Baiturrahman, meski diterjang gelombang besar yang masuk hingga ke pusat kota pada delapan tahun silam.


Masjid Baiturrahman dalam pantulan cahaya saat waktu Subuh Baca lebih lanjut

Bocah Amerika Mempelajari Islam Di Usia 6 Tahun, Lalu Mengikrarkannya Pada Usia 8 Tahun

Seorang bocah muslim Amerika mempelajari Islam di usia 6 tahun dan mengikrarkannya pada usia 8 tahun. Ibunya memberikan buku-buku semua agama kepada dirinya dan setelah membaca dengan seksama ia memutuskan menjadi seorang muslim sebelum bertemu dengan seorang muslim mana pun. Rosululloh bersabda :

“Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikan dirinya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (Mauttafaqun ‘alaih)

Kisah kita tiada lain pembenar bagi hadits ini. Alexander Furze lahir dari sepasang orang tua Kristen pada tahun 1990 M. Sejak semula sang ibu memutuskan membiarkannya memilih keyakinannya sendiri terlepas dari campur tangan keluarga atau masyarakat. Tidak lama setelah Alexander belajar membaca dan menulis, ibunya memberinya buku-buku berbagai agama samawi dan agama non samawi. Setelah membaca dengan cermat, Alexander memutuskan menjadi seorang muslim. Ia sangat mencintai agama ini sehingga ia belajar sholat, mengenal banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kosa kata bahasa Arab, menghafal beberapa surat, dan belajar adzan.

Semua ini ia lakukan sebelum bertemu dengan seorang muslim mana pun. Berkat bacaan-bacaannya, ia memutuskan memilih nama baru, yakni Muhammad ‘Abdulloh karena meniru nama Rosululloh yang dicintainya sejak masih kecil. Baca lebih lanjut

Turkistan Timur (Negeri Islam Yang Tinggal Kenangan)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

KATA PENGANTAR



Banyak orang tak mengenal negeri Turkistan. Tetapi bagi umat Islam, tak kenal dengan salah satu negeri Islam yang kemasyhurannya hampir menyamai Andalusia, sangatlah aib. Bukankah nama-nama ilmuwan kita berasal dari sana? Al-Bukhari, Al-Biruni, Al-Farabi, Abu Ali Ibnu Sina, dan sejumlah tokoh lainnya yang sampai kini merupakan tokoh-tokoh paling tak terlupakan umat Islam, berasal dari negeri tersebut.

Turkistan terletak di Asia Tengah dengan penduduk mayoritas keturunan Turki, merupakan salah satu benteng kebudayaan dan peradaban Islam. Pada abad ke-16 sampai abad ke-18, bangsa Cina dan Rusia mulai mengerlingkan nafsu angkaranya ke Turkistan dan mulai berfikir tentang kemungkinan untuk melakukan ekspansi teritorial. Cina mulai bergerak menaklukkan Turkistan Timur dan kemudian merubah namanya menjadi Sinkiang, sementara Turkistan Barat telah lebih dahulu dicaplok Rusia. Dengan berbagai alasan politik, Soviet menghapuskan nama Turkistan dari peta dunia dan memancangkan nama Republik Soviet Uzbekistan, Republik Soviet Turkmenistan, Republik Soviet Tadzhikistan, Republik Soviet Kazakestan, dan Republik Soviet Kirgistan.


Atas aksi ekspansionis tersebut, Turkistan negeri Islam tersebut kini benar-benar telah raib (musnah) dari peta dunia. Penjajah Rusia dan Cina telah memecah-belahnya menjadi negara-negara boneka yang kini termasuk bagian dari Republik Sosialis Unisoviet dan Republik Rakyat Cina, dua komunis terbesar di dunia.
Baca lebih lanjut